Thursday, 23 July 2015

Proposal : Menanam Kembali Hutan Bakau

MENANAM KEMBALI HUTAN BAKAU


I.DASAR PENELITIAN
  Sekarang banjir sudah melanda hampir seluruh perkampungan Peusangan selatan,bahkan banyak sekali daerah lain yang menjadi daerah rawan banjir. Itu semua disebabkan karena penebangan pohon liar,pembuangan sampah sembarangan, dan lain sebagainya. Salah satunya bakau yang berfungsi sebagai penghalang banjir dan tedengan / serapa air sudah berkurang.
  Maka dari itu sangatlah perlu masyarakat menegtahui / mensosialisasi pentingnya pohon bakau. Para generasi muda juga harus sudah mampu memotivikasi dirinya dan bertanggung jawab untuk masa depan dengan memperbarui masa sekarang yang sudah rusak. Menanam pohon bakau kembali dilakukan oleh pelajar merupakan cara yang paling efektif.

II.JENIS KEGIATAN
  Kegiatan yang dilaksanakan adalah penanaman pohon bakau di daerah Peusangan selatan, oleh siswa dan siswi SMAN 2 Peusangan, Bireuen.

III.MATERI KEGIATAN
1.    Sambutan kepala desa Uteun Raya oleh bapak Subardi
2.    Pengarahan oleh ketua pelaksana.
3.    Penanaman pohon bakau bersama oleh semua siswa dan siswi SMAN 2 Peusangan.
4.    Dukumentasi acara penanaman pohon bakau.

IV.MAKSUD DAN TUJUAN
1.       Membantu dalam pelestarikan hutan bakau.
2.       Pencegahan banjir.
Adapun maksud dari penyelenggarakan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa dan siswi SMAN 2  Peusangan.


V.PESERTA KEGIATAN
1.       Pengurus osis SMAN 2 Peusangan.
2.       Perwakilan seluruh siswa dan siswi SMAN 2 Peusangan.
3.       Seluruh siswa kelas XII IPA 2.
4.       Pendamping.



VI.WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANA
  Dilaksanakan pada 2 januari 2014 di daerah rawa desa Uteuen Raya, Peusangan selatan.

VII.SUSUNAN KEPANITIAAN
       Penanggung jawab              : Ketua Osis
       Ketua pelaksana                 : Cut Yulinanda Putri Vonna
       Wakil pelaksana                 : Muhammad Suhendar
       Sekretaris                          : Eva Diana
       Wakil sekretaris                  : Ferry Andrian
       Bendahara             : Safrina
       Wakil bendahara                 : Jurisna

Bidang-bidang :
       Transportasi                       : Muhammad Diaulhak
       Acara                                 : Putri Narissa
       Konsumsi                           : Rizha Yanti
       Dokumentasi                      : Miswary
                                                  
VII.RENCANA PEMASUKAN
      Osis SMAN 2 Peusangan                            : Rp 500.000,-
       Siswa dan siswi SMAN 2 Peusangan           : Rp 1.000.000,-
       Sumbangan guru-guru SMAN 2 Peusangan   : Rp 200.000,-
       Jumlah pemasukan                                     : Rp 1.700.000,-


IX.RENCANA PENGELUARAN
       Konsumsi                                       : Rp 1.000.000,-
       Pembelian bibit bakau                     : Rp 700.000,-
       Transportasi                                   : Rp 200.000,-
       Dokumentasi                                  : Rp 400.000,-
       Lain-lain                                         : Rp 300.000,-
       Jumlah total                                   : Rp 1.700.000,-

X.PENUTUP
      Demikian usulan kegiatan penanaman pohon bakau yang diselenggarakan oleh SMAN 2 Peusangan tahun 2014. Bantuan dan partisispasi semua pihak kami harapkan demi kelancaran kegiatan tersebut.

Matangglumpangdua, 30 Desember 2013,

Ketua Osis
SMAN 2 Peusangan                                                                                          Ketua Pelaksana


                                                                                                                                                           
         Zubaidi                                                                                                   Cut Yulinanda Putri Vonna

Mengetahui
Wakasek bidang kesiswaan


                                               
Syahabuddin Daud, S.pd


Wednesday, 15 July 2015

Artikel : Hikayat Negeri Peusangan

Hikayat Negeri Peusangan

 Peusangan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di wilayah timur Kabupaten Bireuen,  Kabupaten Bireuen sendiri dulunya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Aceh Utara. Sejarah Aceh Utara sendiri tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.
 Secara de facto Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek di Samalanga. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi Daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie (Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan BAPPEDA Aceh Utara). Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (Kewedanaan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana) yaitu :

 1. Onder Afdeeling Bireuen
 2. Onder Afdeeling Lhokseumawe
 3. Onder Afdeeling Lhoksukon
 Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok, Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik.
 Pada masa pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut Kun dan Gampong disebut Kumi. Sesudah Indonesia diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959. Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanaan yaitu :
1. Kewedanaan Bireuen terdiri atas 7 kecamatan
2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan
3. Kewedanaan Lhoksukon terdiri atas 8 kecamatan
 Dua tahun kemudian keluar Undang Undang Nomor 18 tahun 1959 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU tersebut wilayah kewedanaan dihapuskan dan wilayah kecamatan langsung di bawah Kabupaten Daerah Tingkat II. Dengan surat keputusan Gubemur Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor: 07 / SK / 11 / Des/ 1969 tanggal 6 Juni 1969, wilayah bekas kewedanaan Bireuen ditetapkan menjadi daerah perwakilan Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara yang dikepalai seorang kepala perwakilan yang kini sudah menjadi Kabupaten Bireun.
 Hampir dua dasawarsa kemudian dikeluarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, sebutan Kepala Perwakilan diganti dengan Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II, sehingga daerah perwakilan Bireuen berubah menjadi Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara di Bireuen.
 Peran Peusangan dalam pergerakan dan perubahan di Indonesia juga tidak boleh dinafikan yaitu pada tanggal 5 Mei 1939 diadakan rapat di sebuah gedung yang sekarang dikenal dengan Universitas Almuslim oleh sekelompok ulama-ulama yang ada di Aceh, yang kemudian lahirlah Organisasi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), yang diketuai oleh Tengku Muhammad Daud Beureuh. PUSA berusaha meningkatkan syi’ar Islam, dengan meningkatkan pendidikan agar terlaksana syi’ar Islam dalam masyarakat. Dalam perjuangannya, organisasi ini bergabung dalam MIAI.
 Menceritakan Negeri Peusangan ingatan kita tidak terlepas dari romatika sejarah hikayat Malem Dewa, dan hubungannya dengan ”Negeri Di Atas Angin” atau negeri ”Antara”. Mungkin kalau sekarang termasuk wilayah Tanah Gayo Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon.
Kata Leuser, adalah nama gunung di tengahnya. Sedangkan kata “Antara” ini mungkin bisa diartikan letaknya di antara kedua kabupaten Tanah Gayo ini. Tetapi, di Aceh, Tanah Gayo Kabupaten Aceh Tengah juga sering disebut sebagai negeri “Antara” atau “Negeri di Atas Angin”. Nama ini erat kaitannya dengan legenda rakyat Aceh Tengah, Malem Dewa yang mengisahkan tentang percintaan Malem Dewa dengan Peteri Bensu (Putri Bungsu) yakni seorang bidadari yang nyasar ke Kerajaan Antara dan sayapnya untuk terbang disembunyikan Malem Dewa yang jatuh cinta kepadanya.
Kisah Malem Dewa dan Peteri Bensu, adalah kisah cinta abadi tiada taranya. Indah dan penuh dengan pengalaman suka duka serta rintangan berat yang hampir saja berakhir karena ayah dan ibu Peteri Bensu berupaya mengembalikan anaknya ke Kerajaannya di langit. “Negeri Antara” dalam legenda Malem Dewa rakyat Aceh Tengah berada di sebuah gunung di atas Danau Laut Tawar.
 Malem Dewa adalah putra seorang Raja Peusangan yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Bireun. Malem Dewa sedang mandi di sungai dan tiba-tiba ia mendapatkan sehelai rambut panjang hanyut di sungai. Dan ia menelusuri Sungai Krueng Peusangan untuk mencari pemilik rambut yang ternyata adalah milik Puteri Bensu.
Kisah di atas, entah benar atau sekedar mitos, yang pasti hikayat tersebut sudah melagenda di dalam kultur masyarakat Peusangan, tetapi hampir setiap orang Peusangan meyakini tentang kebenaran hikayat tersebut. Sampai-sampai dulu dikisahkan oleh beberapa orang tua yang ada di Peusangan setiap orang yang ingin menutur atau menceritakan tentang hikayat Malem Dewa terlebih dahulu harus mengadakan kenduri untuk anak yatim. Yang paling terkenal dan ahli dalam hal menceritakan hikayat Malem Dewa ini adalah almarhum Tgk. Adnan PMTOH, konon kabarnya seniman tutur ini dalam menceritakan hikayat Melem Dewa bisa memakan waktu tiga malam pertunjukan yang dihadiri oleh masyarakat.
 Walaupun hikayat Malem Dewa ini menurut beberapa orang hanya sekedar mitos, tapi masyarakat sangat meyakini itu adalah cerita yang benar-benar terjadi, sehingga di daerah Awe Geutah yang terletak kurang lebih 10 kilometer arah selatan Kota Matangglumpangdua sebagai ibukota Kecamatan Peusangan, sampai sekarang orang meyakini ada tupai peliharaan Malem Dewa, orang-orang di sana menyebutnya ”Tupai Teungku Malem”.

Menurut cerita turun temurun, dahulu semasa Ampon Chiek Peusangan masih ada setiap penduduk diwajibkan untuk menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, terutama giri (jeruk bali), sehingga tidak heran sampai sekarang jeruk bali telah menjadi komoditas khas Peusangan.

Friday, 10 July 2015

Cerpen : Fotografer is My Job

Fotografer is My Job
Oleh : Miswary

Cerita ini bisa kita mulai dari langkah pertama aku ingin menjadi seorang fotografer professional.mulanya aku kurang tertarik dengan dunia fotografi, tapi saat itu waktu aku pergi ke lamno, disitulah mulanya aku menjadi seorang fotografer. Tapi jangan berpikir dulu fotografer professional, tapi bisa dipikir jadi tukang foto teman-temanku yang seenaknya menyuruh aku memotret mereka.

Saat itu aku bersama rombongan yang cukup aku segani,bagaimana tidak disegani,Cuma aku yang yang baru anak bawang masuk ke rombongan guru-guru di pengajian kami,walaupun mereka guru tapi umur mereka beda sekitar 5 tahunlah sama saya,dari yang pertama nervous jadi kebawa suasana sampai tidak ada istilah antara murid dan guru,betul begitu sobat? Hahahahahaha

Sebelum rombongan kami menuju ke lamno kami singgah dulu lah di Banda Aceh untuk shalat dhuhur karena kami berangkat pagi maka dhuhurnya kami sampai di Banda Aceh atau tepatnya di Mesjid Raya Baiturrahman. Setelah kami selesai shalat Dhuhur maka disitulah dimulainya aku menjadi seorang fotografer.

Mau ceritanya? Yuk kita lanjut!

( Tadikan sambungan ceritanya setelah shalat,setelah salat aku dipangil pula tu sama gurunya sebut saja namanya abdul,saat itu begini dipangginya? )
            “Ry?sini!” panggil dia.
            “ ada apa?” tanyaku lagi.
            “ boleh minta bantuan gak?” dianya malah nanyak lagi.
Ya karena guruku ya terpaksa mau gak mau ya harus bilang ya. Bener gitu bro?
            “ boleh,kalau buat tengku apa sih yang ngak!” jawabku dengan lantang.
            “ kalau gitu,sini fotoin kami ni!”
            “ hah,fotoin tengku?” Tanya ku denga lemas.
            “ gak mau ya?” dia nanyak sama aku dengan nada tinggi.
            “ ya mau lah,sini kameranya tengku biar aku fotoin!” jawabku dengan agak malas.
            Setelah aku foto rombonganku malah rombongan lain yang minta bantuan,ya terpaksalah di fotoin mereka walaupun agak malas.Setelah puas foto-foto malah aku yang gak kebagian foto,ya sudahlah nasib !!! nasib.!!!!

              ( Tukan bro! apa saya bilang! Masih mau sampai sekarang disuruh-suruh foto sama kawan? Makanya mikir! Hahaha. Sebelum mikir yuk kita lanjut ke cerita berikutnya.masih mau lanjut kan? Yuk buruan dibaca lagi.go!!! )

            Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke lamno, saat perjalanan kami yang terasa sangat jauh tersebut terasa sangat singkat karena kami di sepanjang perjalanan dihibur oleh pemandangan yang sangat menabjubkan apalagi waktu kami sampai ke salah satu jalan yag sangat sulit dilewati yaitu jalan atau rute gunung gurute yang medannya dua kali lipat dari medan selawah tetapi saaat kami di jalan tersebut tidak terasa sulit karena pemandangan yang begitu indah dan aku pun begitu takjub dengan bumi Aceh yang tercinta sehingga aku tidak tersadar mengucapkan kalimat yang begitu bersyukur .

            “ Oh,Tuhan ! Begitu indah ciptaan engkau ! ” Gumamku dengan nada yang sangat kecil.
            Setelah kami puat disuguhkan pemandangan yang sangat indah oleh rute Gurute,kami pun sampai ke tempat tujuan kami,tapi sangat saying waktu itu aku belum menyukai fotografi sehingga aku di mengabadikan momen indah tersebut..hehehehehehehe
Padahal aku sangat ingin mengabadikan momen tersebut tapi yang harus bagaimana lagi yang berlalu yang biarlah berlalu.

( sudah sampai ya cerita kita,oh ya udah sampai ke lamno,mau tau lanjutannya, kalau bilang gak mau ya harus mau, sebab yang tulis cerita saya,hehehehe,yok kita lanjut! )

            Kami pun sampai dilamno,tapi aku cuma mau cerita waktu kami mau pulang aja,karena waktu kami menginab gak akan nyambung dengan judul cerpen saya sobat.   
        
            Pas waktu kami pulang kami pun berziarah terlebih dahulu ke makam poe termerhom ,sesampainya di ditu kami harus mendaki dahulu lebih kurang kurang lebih gak tahu berapa jumlah anak tangganya hehehe

            Sesampainya diatas pemandangannya subhanallah begitu indahnya bahkan disitu ada satu guci keramat yang air didalam guci tersebut walaupun diambil terus menerus takkan habis airnya.

            “ Subhanallah,begitu besar kuasa mu Ya Allah” Ucapku dalam hati.
            Dan dimulailah aku menjadi fotografer terkenal lagi,aku pun dengan tangkas nya mengambil kamera untuk mengabadikan momen saat mereka menyuruhku untuk memotret mereka. Aku pun saat lelah mengabadikan momen tapi aku juga senang karena dari situlah bias membuat aku menjadi seorang fotografer pemula dan bisa menulis cerpen ini..hehehehe

            Setelah puas kami berfoto-foto disitu, kami pun melanjutkan pejalanan untuk kembali ke Matangglumpangdua, dan mobil kami pun melaju dengan kencang seakan akan jalan itu milik kami,

( eiiits,tunggu dulu,kalian pikir cerita udah habis? Jangan stop bacanya karena saya akan melanjutkan ke ziarah makam syiah kuala, dan itu cerita sebelum berkunjung ke yang cerita lain karena masih panjang banget lo cerita belum saat pulang dan resminya aku jadi fotografer. Tapi masih mau bacakan ceritanya,kalau mau yuk kita lanjut,go?)

            Sesampainya aku di makam syiah kuala aku pun langsung bergegas turun mobil karena aku sangat ingin melihat makam tokoh islam di Aceh dan sesampainya di depan makam aku langsung jadi sasaran teman aku yang tidak lain tidak bukan  hanya untuk menyuruh aku untuk memotret mereka.pada saat itu?
            “ Ry? Sini! “ panggil temanku dari jauh.
            “ iya ada apa?” jawabku dari kejauhan.
            “ bantu aku ya! Pinta temanku
            Sebelum aku menuruti permintaan temanku ini,aku sudah tahu apa yang dia minta,yaitu mau menyuruh aku untuk memotret mereka,dan aku pun memikirkan alasan untuk menolak permintaan tersebut,dan pas aku sedang berpikir ada teman satu mobilku megajak ke dalam makam untuk berdoa dan ajakan dia tidak aku sia-siakan dan bias menjadi alasan aku untuk menolak permintaan temanku itu.
            “ mau aku bantu apa?” balas aku bertanya.
            “ fotoin kami bentar ya?” pinta dia
            Aku pun menjawab dengan alasan tadi.
            “ oh tidak bisa bro!” jawabku dengan gurau.
            “ kenapa?” dia malah kaget.
            “ aku mau kedalam dulu!” jawabku singkat.
            “ bentaran doan ry.ayolah?” dia malah makin memaksa.
            “ gak bisam.tuh aku udah dipanggil oleh tengku muksal.” Jawabku geram.
            Sebelum dia menjawab aku pun langsung berjalan menjauh dan mengucapkan kata
            “ daah! Nanti aja fotonya ya.oke” jawabku singkat sambil berjalan menjauh.
            Aku pun langsung mengikuti langkah temanku yang berjalan duluan yang ingin cepat-cepat masuk karena sebentar lagi akan ditutup. Didalam suasana cuku menegangkan dank u pun berdoa dengan doa yang aku bias sambil menunggu temanku yang juga berdoa.
( aduh,kalian mulai bosan ya. Dan bertanya-tanya mulai gak nyambung kok cerita nya,malah ke makam dan saya bilang ini puncak karir ke fotografer, tapi tenang dulu baca aja terus setelah nanti saya berdoa dan keluar dari makam baru dimulai, tunggu aja,masih sanggup nunggu kan,kalau masih mau nunggu yok kita lanjut cerita?hehehehe.)
            Aku pun selesai berdoa dan temanku juga dan aku pun langsung dipanggil oleh temanku yang tadi untuk fotoi mereka.dan disinilah dunia fotografiku dimulai,
            “ ry fotonya dari bawah,jangan gitu,kesini lagi,Nampak gak?” pinta nya dengan nada tinggi.        
            “iyaiya” jawabku singkat.
            “sini,disini juga bagus.!” Panggil dia.
            Aku hanya mengikuti kata mereka dan jadilah aku disuruh kesana kemari untuk memotret mereka dengan berbagai macam gaya yang saat itu bias dikatakan lebay sih,hehehe
Dan tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 6 sore dan kami pun bergegas pergi dan pulang ke kampung tercinta dan saat itu juga aku pun mulai mempelajari dunia fotografi yang sangat cukup rumit bagi seorang pemula bagi aku. Dan aku pun mulai berpergian untuk memotret orang yang ingin difoto oleh aku,walaupun fotonya bagus tapi sayang editan nya belum benar-benar bagus dan aku pun masih belajar dan belajara supaya aku bias menjadi fotografer yang terkenal.Amin. dan aku pun bersyukur dari pengalamanku yang begitu sulit karena jadi suruhan orang, sekarang aku pun merintis karir ke dunia fotografi dengan bantuan orang-orang disekitarku dan aku berterima kasih kepada mereka.

Note: Saya ucapkan terima kasih bagi pembaca cerpen ini dan saya mohon kritik dan sarannya di kolom komentar dan jangan lupa ikuti ya bagi yang mau ikuti dan Ditunggu ya cerpen-cerpen saya di kemudian hari sekian dan sampai jumpa di cerpen berikutnya.Wassalam.
           




Wednesday, 8 July 2015

Artikel : Bireuen Dalam Ingatan Ku; Kenangan Yang Indah Hilang Dalam Ingatan


Bunga Rampai Aceh


Bireuen Dalam Ingatan Ku; Kenangan Yang Indah Hilang Dalam Ingatan


Mengapa Bireuen ?

Bireuen, sebuah kota tingkat kewedanaan berpenduduk sekitar 55.000 jiwa, (bisa berubah) masuk kabupaten Aceh Utara. Posisinya terhampar di persimpangan jalan besar, ramai lalu lintas. Menghubungkan Bireuen-Sigli-Banda Aceh ke arah barat dan ke timur terus ke Lhok Seumawe-Langsa-Medan. Ke arah selatan Bireuen-Takengon- Blangkejeren-Kutacane. Di atas peta, kota Bireuen kelihatan kecil. Pamornya mulai tenggelam ditelan kecemerlangan kota Lhok Seumawe yang kini beralih wajah menjadi kota industri berskala besar. Letak kota Bireuen yang strategis itu, kini tak punya arti apa-apa lagi. Bahkan terkesan sudah ditinggalkan. Berbeda dengan masa Revolusi Fisik (Perang Kemerdekaan Rl 1945-1949). Kedudukan kota Bireuen merupakan basis dan titik sentral dari semua kegiatan politik, militer, sosial ekonomi dan budaya serta pertahanan/keamanan rakyat semesta (hankamrata).
Keterlibatan kota Bireuen yang begitu menentukan dalam alur sejarah perjuangan Republik Indonesia di awal revolusi, kini hanya tinggal nostalgia di kalangan Angkatan 45. Bekas-bekasnya seolah menguap ditelan waktu, hilang tak tentu rimbanya. Suatu kontras, demikianlah kesan melihat kota Bireuen sekarang dibandingkan tetangganya kota Lhok Seumawe, yang maju pesat dengan beraneka pembangunan fisik/materiil dari sebuah kota industri yang memiliki teknologi canggih. Akankah momen Bireuen yang indah itu di masa lampau, lenyap di makan waktu?

Jaraknya tidak seberapa, hanya sekitar 45 km. Dulu pun kedua kota bertetangga yang menyatu ini selalu bergandeng tangan menyelesaikan masalah-masalah bersama yang dihadapi, terutama di bidang ekonomi, perdagangan dan pendidikan. Tapi sekarang, mengapa kota Bireuen seolah tercecer ?

Padahal, di Bireuen banyak bangunan sejarah dan benda sejarah yang dapat dilestarikan yang melukiskan peranan kota Bireuen dalam perang Kemerdekaan Rl 1945-1949. Misalnya Markas Divisi X TNI, hotel Murni tempat berlangsungnya rapatrapat panting. Pertempuran Krueng Panjou yang terkenal, gudang senjata Teupin Mane yang angker dan masih banyak lagi lainnya.


Kalau ada yang mau disalahkan dalam kasus ini. Maka kesalahan itu seyogyanya berpulang kepada mereka Angkatan 45 sendiri. Mengapa mereka melupakan sejarah masa lalu, sejarah yang patriotik dan heroik diperankan Bireuen sebagai “Kota Perjuangan”. Nah, apa pula artinya itu Bireuen “Kota Perjuangan”

Berbagai pertanyaan tentunya timbul dari kalangan generasi penerus. Kalau angkatan 45 tidak menjelaskan arti dan nilai kejuangan Bireuen sebagai “Kota Perjuangan”, tentu saja generasi penerus kehilangan jejak untuk melestarikannya.

Bireuen Kota Perjuangan; Aceh Sebagai Alternatif


Dalam konteks inilah tentunya Angkatan 45 mulai sadar dan segera mengambil inisiatif untuk memasyarakatkan makna “Bireuen Kota Perjuangan”. Nah, peristiwa itu bermula pada hari Rabu tanggal 8 April 1987 diadakan “Apel Angkatan 45” bertempat di halaman rumah mantan Panglima Divisi Gajah I/Divisi X TNI Komandemen Sumatera, yaitu di kota Bireuen.

Sebelumnya para pejuang kumpul di hotel “Murni”, Bireuen. Acara dimulai dengan mengheningkan cipta dan lagu Indonesia Raya diteruskan sambutan Sesepuh Masyarakat Aceh/Menteri Koperasi/Ka. Bulog. H . Bustanil Arifin, SH., Mayjen A.R. Ramly (Dubes R l di Washington DC) dan Gubernur Aceh, Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA.

Acara terpenting dalam apel itu adalah peletakan batu pertama monumen “Bireuen Kota Perjuangan” oleh Letnan Jenderal (Purn) H. Bustanil Arifin. Hampir seluruh pejuang Angkatan 45 terwakili dalam “apel kejuangan” itu, baik dari TNI yang masih aktif, purnawirawan, Laskar Pejuang, Tentara Pelajar, Pejoang Wanita, yang berdatangan dari seluruh daerah Aceh dan luar daerah Aceh, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya. Tampak antaranya Mayjen (Purn) Sjamaun Gaharu, T.A. Hamid Azwar, mantan Gubernur Aceh Prof. A . Hasjmy, A . Muzakkir Walad, Prof. Ir. Isjrin Nurdin, Alwin Nurdin, Gedong, A l i Hasan AS, Hasan Saleh dan sebagainya.

Dari upacara berlangsung dengan syahdu terlihat adanya kesan yang jelas memadu tekad mengangkat makna dan nilai kejuangan “Bireuen Kota Perjuangan” sebagai alternatif untuk melanjutkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945

Hanya disayangkan, begitu upacara selesai, tampaknya berakhir pula pesan-pesan yang perlu dikembangkan untuk melestarikan sejarah “Bireuen Kota Perjuangan”. Seyogyanya perlu tindak lanjut dengan program yang jelas dan rinci. Misalnya Gubernur Ibrahim Hasan langsung turun tangan membentuk sebuah panitia atau yayasan yang menggali dan meneliti makna dan nilai kejuangan yang melekat pada sosok “Bireuen Kota Perjuangan”. Hasilnya digodok, diuji lagi, misalnya lewat seminar yang dihadiri para pelaku dan pakar sejarah.

Ini penting, karena nilai sejarah “Bireuen Kota Perjuangan” jelas punya “linkage” (pertalian, sambungan) dengan sejarah perjuangan nasional dalam menegakkan dan mempertahankan negara R l selama Perang Kemerdekaan.

Bireuen, Mata Rantai Yang Hilang (Mising Link) ?

Betapa tidak! Kalau Angkatan 45 di Aceh tidak mampu merampungkan nilai kejuangan “Bireuen Kota Perjuangan” yang sesungguhnya, dikuatirkan akan terjadi “missing link” (adanya mata rantai yang hilang) dalam sejarah nasional Perang Kemerdekaan RI

Karena masalah ini belum banyak diungkap orang di tempat kejadiannya di Aceh. Sebab masih melekat apa yang dinamakan suatu “penyakit” di kalangan masyarakat Aceh, tak gemar gembar-gembor prestasi, takut dinilai sombong, takabur. Lebih baik diam. Inilah bagian dari kultur Aceh yang perlu dikoreksi dan diluruskan. Berbicara tentang sejarah atau penemuan baru berdasarkan fakta dan realita adalah sesuatu yang lumrah dan wajar untuk diangkat ke permukaan. Jangan tinggal terpendam atau didiamkan. Ini satu prestasi. Bukan menyombongkan diri. Sikap ini memang perlu dikoreksi.

Bertolak dari pemikiran dan pertimbangan di atas, pengasuh Yayasan “Seulawah RI-001” yang menerbitkan buku sejarah ini, mengambil prakarsa untuk mulai menggali dan meneliti apa yang tersurat dan tersirat dari julukan “Bireuen Kota Perjuangan”. Meskipun dengan alat dan fasilitas serba terbatas.

Sejarah itu bermula sejak datangnya Bung Karno ke Tanah Rencong tanggal 15 Juni 1948 mendarat di lapangan militer Lhok Nga. Tanggal 16 dan 17 Juni 1948 Bung Karno sedang berada di Bireuen, menyaksikan kelengkapan alat perang dengan senjata berat yang masih utuh, membuat hati Bung Karno bangga dan terpesona.

Di kota Bireuen-lah pertama kali Bung Karno melakukan dialog dengan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tgk. Mohd. Daud Bereueh. Kemudian dialog itu berkembang kembali di pendopo Residen Aceh di Kutaraja. Dalam dialog di kediaman mantan Panglima Divisi X TNI itulah Bung Karno menjelaskan situasi dan perkiraan keadaan yang menimpa Republik Indonesia.

Berkata Presiden Soekarno: “Negara kita dalam keadaan gawat, pihak Belanda terus mendirikan negara-negara bonekanya di pulau Jawa dan Sumatera. Ruang gerak kita dipersempit dan sekarang hanya daerah Aceh satu-satunya wilayah Rl masih utuh yang tidak diduduki militer Belanda. Aceh menjadi penting sebagai alternatif' satu-satunya yang menentukan kedudukan dan cita-cita bangsa/negara Rl. Karena itulah saya namakan Daerah Modal”, modal untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17Agustus.”

Bireuen, Kota Pergerakan Dan Pendidikan

Melihat sejarahnya, kota Bireuen sejak lama memang dikenal sebagai pusat pergerakan kébangsaan dan pendidikan. Perguruan Taman Siswa adalah satu diantara contoh yang mengembangkan pembaruan dalam pendidikan nasional yang dimulai sekitar tahun 30-an.
  
Juga di bidang pendidikan agama, pembaruan paham dan ajaran Islam di mulai di sini. Sekolah agama tingkat Sanawiyah tumbuh seperti jamur sejak tahun 30-an. Sekolah Sanawiyah yang menonjol antaranya Perguruan “Cut Merak” di Bireuen dan Perguruan “Sanawiyah” di Matang Gelumpang Dua. Putera-puteri dari wilayah Peusangan ini pun banyak pergi ke luar daerah menuntut ilmu, seperti ke Sumatera Timur, Sumatera Barat dan sekembalinya ke Bireuen (Peusangan) terus mendirikan perguruan, dayah dan pesantren.

Di kalangan para ulama juga tidak tinggal diam. Tahun 1939 berdiri di Bireuen “Persatuan Ulama Seluruh Aceh” (PUSA) yang diketuai oleh Tgk. Mohd. Daud Bereueh dan Tgk. Abdurrahman Matang Gelumpang Dua. Dalam waktu relatif singkat organisasi PUSA ini menjalar dan tumbuh ke seluruh pedesaan.

Hadirnya PUSA tahun 1939 telah membuat pemerintah kolonial Belanda memperketat izin-izin rapat. Setahun kemudian, tahun 1940 PUSA mendirikan sebuah perguruan tingkat atas untuk menampung lulusan Sanawiyah dan diberi nama “Normal Islam” Bireuen. Satu-satunya perguruan tingkat atas yang didirikan swasta.

Animo masuk Normal Islam menjamur dan siswa-siswa lulusan perguruan ini umumnya memperoleh tempat yang layak untuk menjadi pimpinan di kalangan sipil dan militer di zaman Jepang dan awal kemerdekaan RI. Di Bireuen juga terdapat satu-satunya Sekolah Kader Perwira untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin militer pada awal kemerdekaan. Setiap angkatan yang lulus terus dikirim ke front area untuk mempraktekkan teori dan ilmu yang diperolehnya.

Sekolah Kader Perwira tersebut dipimpin oleh Kapten Agus Husin selaku Komandan dan Wakil Komandan Letnan Satu Bachtiar. Komandan Kompi Siswa Letnan Dua Sumampow, Komandan Kompi Siswa Letnan Dua G.A. Parengkuan, Komandan Peleton Siswa Letnan Dua Daud Gade dan Komandan Peleton Siswa Letnan Dua A . A . Ekel.
  
Bireuen sebagai kota lahirnya pergerakan kébangsaan, pendidikan nasional dan Islam telah banyak memberikan sumbangan di awal kemerdekaan yang kemudian dikenal sebagai “Kota Perjuangan”. Terlambatnya rakyat Aceh mengenyam pendidikan, memang bagian dari kebijakan kolonial onderwijs (pendidikan kolonial Belanda) yangbertujuan “memperbodoh” orang Aceh. Ia tanamkan image yang jelek tentang Aceh, seperti istilahnya yang terkenal sebagai mengejek “tipu Aceh”. Ada dua faktor utama penyebabnya:

Pertama : Aceh memang paling akhir dimasuki Belanda. Walau secara frontal perang Aceh-Belanda sudah berakhir tahun 1904 sewaktu Jenderal van Daalen menduduki Tanah Gayo/Alas di pegunungan Aceh Tengah/Tenggara. Tapi hati orang Aceh tak pernah ditaklukkan Belanda. Perang gerilya berlangsung terus sampai Belanda angkat kaki waktu Jepang masuk tahun 1942. Tidak sebutir peluru pun Jepang rugi waktu ia masuk ke Aceh. Karena orang Belanda telah diusir lebih dahulu oleh rakyat Aceh. Diantara tokoh-tokoh pejuang yang terkenal memimpin perang gerilya di Aceh Tengah/Tenggara adalah Pang Akop, Tgk. Tapa, Datok Seure, Datok Pining, Datok Utel dan Pang Aman Dimot. Perang 80 tahun Aceh-Belanda itu bermula pada saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, Mijer, tahun 1867 berkirim surat kepada Sultan Aceh untuk mengakui kekuasaanya sampai tahun 1942 saat Belanda meninggalkan Indonesia karena Jepang datang dan berlanjut lagi sampai tahun 1945-1949 saat menghadapi agresi militer Belanda I dan II.

Kedua: Aceh ditundukkan tidak hanya dengan kekuatan senjata saja, tapi kolonial Belanda melakukan siasat “licik” yang lebih dikenal dengan istilah “Atjehschepolitiek”. Cara inilah yang dipergunakan Jenderal van Heutsz yang terkenal kejam dengan penasehat utamanya Dr. Snouck Hurgronye yang menyamar dengan berbagai panggilan “Abdul Gaffar”. Bahkan ada juga yang memanggil “Habib Putih” dan lain sebagainya. Abdul Gaffar ini melakukan pendekatan Islami yang sangat mengena di hati orang Aceh dengan berbagai tipu dayanya yang licik. Menafsirkan ayat dan Hadis sesenaknya, yang menguntungkan kolonial Belanda. Belanda tidak ingin rakyat Aceh terbuka matanya, apalagi menjadi pandai. Pengajaran yang diberikan sangat terbatas, sekedar untuk dididik sebagai calon pegawai administrasi yang tulis tangannya cantik.

Bireuen, Kawasan Wisata, Budaya, dan Sejarah

Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh. Menurut Ibrahim Abduh dalam Ikhtisar Radja Jeumpa, Kerajaan Jeumpa terletak di di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.

Di atas bukit kecil di dusun Tgk Keujreuen di desa itu menurut Ibrahim, makam Raja Jeumpa ditemukan. Secara geografis, kerajaan Jeumpa terletak di daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur.

Dahulu kala desa-desa Paloh Seulimeng, Abeuk Usong, Bintanghu, Blang Seupeung, Blang Gandai, Cot Iboeh, Cot Meugo, Blang Seunoeng, Blang Rheum, Cot Leusong, Glumpang Payong, Lipah Rayeuk, Batee Timoh dan Lhaksana, berada di daerah yang terletak di tepi pantai.

Daerah persawahan sekarang merupakan daerah genangan air laut dan rawa-rawa yang ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan. Di antara tumbuhan dan hutan-hutan itu ada undukan tanah yang lebih tinggi dari permukaaan laut, yang merupakan pulau-pulau kecil.

Saat itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong.

Menurut Ibrahim dalam tulisannya itu, bukti yang menunjukkan bahwa daerah tersebut dilingkari oleh air laut terdapat di Cot Cut, antara Abeuk Usong dengan Paloh Seulimeng, yaitu berupa lobang yang konon tak pernah tersumbat. Setahun sekali bila air pasang, maka air di lubang tersebut akan terasa asin. Bukti lainnya adalah sumur-sumur di desa-desa tersebut airnya asin.

Tugu Bate Kureng adalah salah satu tugu yang terletak di jantung Ibukota Bireuen tepatnya di depan Meuligoe Bupati. Diatasnya terdapat batu besar dan telah menjadi lambang kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Bireuen. Tugu ini terpancar sebuah ketegaran, ibarat kata “tak lekang di bakar panas, tak lapuk di guyur hujan”

Meuligoe Bupati. Meuligoe Bupati merupakan tempat kediaman Bupati Bireuen, meuligoe ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda, saat merdeka Presiden RI 1 ( Ir. Soekarno ) pernah menginap di meuligoe ini pada saat beliau berkunjung ke Aceh.

Tugu Sp.4 Bireuen. Tugu Sp. 4 adalah lambang keindahan dan kemewahan raut wajah kota Bireuen, berada di perempatan jalan antara jalan negara Banda Aceh-Medan dan jalan Bireuen-Takengon.

Tugu Juang. Tugu juang merupakan tugu perjuangan rakyat dimasa penjajahan Belanda. Tugu ini adalah kenangan sejarah Aceh. Tugu juang ini terletak di jantung kota Bireuen.

Tugu Perjuangan Batee Iliek. Objek wisata budaya ini terletak di desa Bate Iliek Kecamatan Samalanga dan merupakan land mark Kota Bireuen sebagai simbul Kota Juang.

Makam Pahlawan 44. Makam pahlawan ini terdapat di Desa Leku Kecamatan Pandrah. Untuk mencapai objek wisata ziarah ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 25 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Tgk. Cot Di Lereueng. Makam ini terletak di Desa Cot Tufah Kecamatan gandapura, bila ingin melakukan ziarah ke makam ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak sekitar 20 Km.

MakamTgk. Banta Ahmad. Makam ini terdapat di Desa Samuti Krueng Kecamatan Gandapura. Untuk mencapai objek wisata ziarah ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 20 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Bantara Blang Mee. Makam ini terletak di Desa Babah Jurong Cot Kecamatan Kuta Blang. Untuk mencapai objek wisata ziarah ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak tempuh sekitar 18 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Raja Baroa. Objek wisata ziarah ini terdapat di Desa Gampong Raya Tambo Kecamatan Peusangan. Makam ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 13 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Tgk. Di Batee Beutong. Makam ini terdapat di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala. Untuk mencapai objek wisata ziarah ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 3 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Tgk. Meurah Bireuen. Objek wisata ziarah ini terdapat di Desa Geudong Kecamatan Kota Juang. Untuk melakukanziarah ke makam ini dapat ditempuh dengan jarak 1 Km dari Kota Bireuen.

Makam Jeurat Manyang. Makam ini terdapat di Desa Blang Kubu Kecamatan Peudada. Untuk melakukan ziarah ke makam ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 5 Km dari ibukota kabupaten.

Makam Tgk. Marhum. Objek wisata ziarah ini terdapat di Desa Garot Kecamatan Peudada. Untuk melakukan ziarah ke makam ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 6 Km dari ibukota kabupaten.

Rumah Adat dan Makam Tgk Awe Geutah. Rumoh Tgk. Di Awe Geutah adalah peninggalan ulama kharismatik Tgk. Chik Abdurrahim di Gampong Awe Geutah Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Rumah ini diperkirakan telah dibangun 500 tahun yang silam. Dalam komplek Rumoh Tgk. Di Awe Geutah ini juga terdapat Mon Kaluet (Sumur Semedi) tempat para ulama dan para santri bersemedi. Tgk. Chik Awe Geutah merupakan ulama besar yang cukup berjasa dalam pengembangan ajaran islam dalam wilayah pase pada khususnya dan Aceh pada umumnya semasa kesultanan Iskandar Muda.

Mesjid Kuta Blang. Objek wisata budaya ini terdapat di Desa Meunasah Lueng Kecamatan Samalanga, untuk megunjungi masjid ini dapat ditempuh lewat jalan darat dengan jarak 1 Km dari Ibukota Kabupaten Bireuen

Makam Raja Jeumpa. Objek wisata ziarah ini terletak di Desa Geudong Kecamatan Kota Juang.Untuk melakukan ziarah ini dapat ditempuh lewt jalan darat dengan jarak 1 Km dari ibukota Kabupaten

Makam Tgk Dilapan. Makam syuhada 8 adalah makam para ulama Aceh yang syahid dalam peperangan. Makam ini terletak di sebelah barat Kota Bireuen sekitar 30 km, tepatnya di Cot Batee Geulungku Kecamatan Simpang Mamplam, berada disisi jalan Medan-Banda Aceh. Makam ini dianggap sakral (keramat) oleh masyarakat sehingga selalu disinggahi pengunjung yang melintasi jalan tersebut.

Pemandian Krueng Simpo. Objek Wisata dengan panorama alam yang sejuk dan bebatuan serta rindang pepohonan. Objek wisata ini terletak di sisi jalan Negara Bireuen – Takengon Km. 18. Pada hari libur khususnya Krueng Simpo ramai dikunjungi oleh pengunjung.

Pemandian Krueng Batee Iliek. Objek wisata Batee Iliek adalah tempat wisata pemandian yang dihiasi oleh air sungai yang mengalir di celah – celah bebatuan yang berukuran besar – besar yang terletak di lereng bukit yang berudara sejuk. Setiap hari libur ramai di kunjungi oleh wisatawan domestik. Objek wisata ini terletak di desa Batee Iliek yang berjarak 44 Km sebelah barat ibukota Kabupaten Bireuen.

PPI Peudada. PPI Peudada merupakan objek wisata bahari, yang memiliki keindahan alam tersendiri. Aliran sungai yang bermuara ke Selat Malaka menjadi jalur persinggahan kapal-kapal nelayan. PPI juga merupakan pelabuhan yang berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan. PPI juga dimanfaatkan oleh pengunjung sebagai tempat berpancing ria para pengunjung. PPI terletak di sebelah utara ibukota kabupaten tepatnya di Kecamatan Peudada dengan jarak sekitar 12 Km.

Pantai Ulee Kareueng. Objek wisata Ulee Kareueng terletak 28 Km sebelah utara ibukota Kabupaten Bireuen yaitu Kecamatan Pandrah. Objek wisata ini menyimpan pesona yang indah, sangat potensial untuk di kembangkan sebagai objek wisata bahari.

Pantai Peuneulet Baroh. Pantai Peuneulet Baroh adalah salah satu objek wisata yang terletak di bagian barat Kota Bireuen, tepatnya di Kecamatan Simpang mamplam ± 38 Km dari pusat Kota Bireuen. Alam yang bersahabat, ombak-ombak berkejaran, hamparan pantai yang luas membentang membuat semua mata setiap pengunjung terpesona. Keindahannya membuat Pantai Peuneulet Baroh ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar wilayah Bireuen.

Pantai Reuleng Manyang. Objek wisata alam pantai ini terdapat didesa Calok Kecamatan Simpang Mamplam yang berjarak ± 30 Km dari Ibukota Kabupaten.

Pantai Kuala Jangka. Pantai Kuala Jangka merupakan satu-satunya kuala yang sangat potensial bagi masyarakat nelayan di Kecamatan Jangka yang juga merupakam objek wisata bahari. Lautan yang membentang luas, panorama alam yang indah, ombak yang pecah menghantam bebatuan. Pantai ini juga sering digunakan sebagai tempat memancing bagi masyarakat Bireuen sekitarnya. Objek wisata ini terletak disebelah timur kota Bireuen dengan jarak berkisar 16 km.

Pantai Kuala Jeumpa. Pantai Kuala Jeumpa adalah objek wisata bahari. Pantai yang alamnya sangat indah dengan pulau-pulau kecil yang terletak disamping muara sungai. Ditempat ini juga merupakan tempat bertelurnya penyu. Disamping itu juga merupakan tempat mendaratnya perahu para nelayan tradisional. Pantai Kuala Jeumpa ini terletak di Kecamatan Jeumpa dengan jarak sekitar 5 km dari ibukota kabupaten.

Pantai Krueng Juli dan Ujong Blang. Objek wisata Krueng Juli dan Ujong Blang adalah daerah pantai laut yang menyimpan pesona keindahan pasir pantainya. Lokasi objek wisata panorama pantai ini terletak disebelah utara Kabupaten Bireuen yang berjarak ±3 Km tepatnya di desa Ujong Blang dan Krueng Juli Kecamatan Kuala.

Bireuen Dalam Ingatan Ku

Bireuen. Meskipun aku tak pernah menginjakkan kaki di tanah Bireuen, namun aku menyimpan hasrat bahwa suatu hari nanti aku bisa berada di sana, dan berkata kepada mereka,“Bireuen, aku datang”.Aku ingin menyebut ingatan dengan kenangan. Supaya aku tahu, semua kebahagiaan itu nyata, pernah ada dan indah. Bagaimana bisa kau berdiam diri begitu lama dalam ingatanku. Bahkan fajar dan senja senantiasa bergulir. Tapi ingatan tentang mu tak pernah menghilang? Kapan aku bisa menyebutmu kenangan? Kapan semua memori indah ini bisa disebut masa lalu?

Terlalu banyak pertanyaan. Seperti biasa. Apakah daun yang jatuh tidak pernah bertanya kepada angin? Ataukah mereka saling bercengkrama dengan bahasa yang sama sekali kita tidak tahu. Sehingga selama ini kita menduga bahwa daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Walau sebenarnya dalam waktu kejatuhannya dia memaki angin dengan semua sisa waktu yang dia punya? Aku ingin merubah ingatan ini menjadi kenangan.

Cinta yang tak pernah pergi, meski sempat padam. Tapi dia tetap hidup di relung hati. Kenangan yang tak pernah hilang terpahat abadi, seperti relief-relief yang terukir pada dinding-dinding candi. Kenangan yang masih bisa merekahkan senyuman, membuat pipi bersemu merah saat semuanya dituturkan dengan mata berbinar.

Demensia mungkin tidak berlaku untuk semua ingatan tentangnya suaranya, senyumnya, semua seperti hantu yang masih bergentayangan di otak. Meski banyak waktu yang telah berlalu namun yang pasti tak ada yang pergi dari hati, tak ada yang hilang dari kenangan
 tak ada yang terhapus dari ingat.

Kita hanya ada sepanjang kita bergantung bersama. Ingatan ada selama kita bersama. Ketika ingatan menganggap kenangan adalah sebuah sejarah. Nostalgia yang tak tersembuhkan akan suatu dunia yang telah lama hilang. Adalah kekuatan ingatan untuk mewujudkan apa yang ada dan yang telah ada menjadi kepingan-kepingan kenangan mengerak di lapisan dasar sejarah terlepas dari biasnya prasangka.

Ironi-ironi kecil semakin menegaskan bahwa setiap ingatan yang melibatkan emosi, masih tak pernah mau berkompromi dengan waktu. Bukan ingatan sederhana, tentunya. Kini, baik ingatan maupun kenangan harus tunduk kepada sejarah secara berkelanjutan, tetapi bagaimana ingatan dan kenangan muncul kembali adalah perkara lain.

Sejarah, ia mampu menyampaikan kenangan-kenangan yang tidak pernah mencapai pengertian sepenuhnya hingga suatu ingatan yang tetap berada jauh, diperintahkan diam oleh masa lalu. Padamu, sejarah. kuserahkan entah ingatan, entah kenangan. sama saja.

Sama halnya denganku yang mengingat segala peristiwa dengan caraku sendiri. Bagaimana aku mengingat semua meskipun belum tentu bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Sama halnya dengan hujan hari ini, celakanya tak hanya mengingatkan aku akan bagaimana caranya agar tidak basah. tapi, lebih dari itu. lebih.

Bertubi-tubi mencoba mendefinisikan peristiwa ini dalam hal orang lain. Meskipun ini sangat membebaskan, membebaskan aku dalam segala ingatan yang kini lebih sering ku sebut sebagai museum ketakutan. Namun, aku tidak pernah menyalahkan ingatan atas keterasingan yang terjadi oleh jeda. Aku bertanggung jawab atas harapan yang kubawa, untuk reaksi emosionalku sendiri, untuk ketidaknyamananku sendiri, dan untuk suasana hatiku sendiri.

Menurutku, ingatan ini tak perlu kuperlihatkan seutuhnya padamu. Sama halnya bulan malam ini, dia hanya menunjukkan sebagian dirinya ketika malam tiba, lalu keesokan harinya dia menghilang. Dengan begitu mungkin akan lebih indah dilihat, terkadang. meskipun, kadang muncul kadang hilang di balik awan. ah, tapi aku selalu ingat, karna aku: pohon.

Eh, jangan-jangan, kita adalah sama-sama kapak. atau sebaliknya. aku: pohon. kamu : pohon. Yang tak mengucapkan sepatah katapun. Meskipun bersebelahan, diam, berabad-abad. Ah, tapi tahukah kamu, ingatan? seseorang yang kuingat setelah kucingku pergi, kamu.

Pada mulanya adalah bukan kata, tapi rasa. Satu kata yang dirasakan hingga menjadi rasa yang terkatakan. Makna, mungkin perlu makna untuk menjembatani agar kata tak terpisahkan dari rasa, meskipun rasa juga merupakan pemberontakan dari kata. Ini tentang sebuah kata yang tengah ku rasa. Aku melihat, tiap kata memiliki rasa yang berbeda hingga mampu melahirkan rasa baru. Bagiku, yang menarik di sini adalah persoalan kata dan rasa.

Aku masih menyisakan kata yang belum dibahas dalam rasa ini, haruskah aku bertanya dengan kata? Tak bisakah aku bertanya dengan rasa? Mungkin sebenarnya kata-kata telah melaksanakan dengan baik tanggung jawabnya untuk menciptakan dan mempertahankan rasa. Akan tetapi, tugas ini menjadi mustahil untuk dilakukan dengan baik sejauh setiap kata tidak mengakui keadaan apa adanya dan mengacuhkan rasa yang seharusnya.

Seandainya terdapat cara yang tidak hanya menjadikan kata sebagai penunjuk rasa melainkan sebagai sumber perasaan, sebuah cara yang tidak hanya menjadikan kata menjadi kalimat namun juga sebagai sesuatu yang dirasa juga merasa. Satu kata, satu nama, satu rasa. Pada suatu sembarang keadaan.

Aku sukar bernafas, telinga semakin panas, udara terasa semakin gerah hingga menyesakkan dada, mendengar peristiwa-peristiwa yang sengaja diringkas sedang emosi semakin tertahan. Pada cuaca yang sedang seperti ini, yang kulakukan hanyalah menghambur-hamburkan perasaan ini. Ini tidaklah mudah, meskipun aku membawa sekotak kebenaran sedang kamu juga mempunyai sekoper kebenaran. Iya, seperti itulah kebenarannya, kata kita. Tapi, bagaimana kita bisa berpikiran bahwa kita memang benar? Ketika kita belum terbebas dari segala alasan hebat. Alasan yang belum pasti. Lagipula, kepastian itu tidak selalu disertai dengan konsekuensi.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Syiah Kuala, Darussalam – Banda Aceh.

Makalah : Sistem Pedidikan Nasional