Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, 10 July 2015

Cerpen : Fotografer is My Job

Fotografer is My Job
Oleh : Miswary

Cerita ini bisa kita mulai dari langkah pertama aku ingin menjadi seorang fotografer professional.mulanya aku kurang tertarik dengan dunia fotografi, tapi saat itu waktu aku pergi ke lamno, disitulah mulanya aku menjadi seorang fotografer. Tapi jangan berpikir dulu fotografer professional, tapi bisa dipikir jadi tukang foto teman-temanku yang seenaknya menyuruh aku memotret mereka.

Saat itu aku bersama rombongan yang cukup aku segani,bagaimana tidak disegani,Cuma aku yang yang baru anak bawang masuk ke rombongan guru-guru di pengajian kami,walaupun mereka guru tapi umur mereka beda sekitar 5 tahunlah sama saya,dari yang pertama nervous jadi kebawa suasana sampai tidak ada istilah antara murid dan guru,betul begitu sobat? Hahahahahaha

Sebelum rombongan kami menuju ke lamno kami singgah dulu lah di Banda Aceh untuk shalat dhuhur karena kami berangkat pagi maka dhuhurnya kami sampai di Banda Aceh atau tepatnya di Mesjid Raya Baiturrahman. Setelah kami selesai shalat Dhuhur maka disitulah dimulainya aku menjadi seorang fotografer.

Mau ceritanya? Yuk kita lanjut!

( Tadikan sambungan ceritanya setelah shalat,setelah salat aku dipangil pula tu sama gurunya sebut saja namanya abdul,saat itu begini dipangginya? )
            “Ry?sini!” panggil dia.
            “ ada apa?” tanyaku lagi.
            “ boleh minta bantuan gak?” dianya malah nanyak lagi.
Ya karena guruku ya terpaksa mau gak mau ya harus bilang ya. Bener gitu bro?
            “ boleh,kalau buat tengku apa sih yang ngak!” jawabku dengan lantang.
            “ kalau gitu,sini fotoin kami ni!”
            “ hah,fotoin tengku?” Tanya ku denga lemas.
            “ gak mau ya?” dia nanyak sama aku dengan nada tinggi.
            “ ya mau lah,sini kameranya tengku biar aku fotoin!” jawabku dengan agak malas.
            Setelah aku foto rombonganku malah rombongan lain yang minta bantuan,ya terpaksalah di fotoin mereka walaupun agak malas.Setelah puas foto-foto malah aku yang gak kebagian foto,ya sudahlah nasib !!! nasib.!!!!

              ( Tukan bro! apa saya bilang! Masih mau sampai sekarang disuruh-suruh foto sama kawan? Makanya mikir! Hahaha. Sebelum mikir yuk kita lanjut ke cerita berikutnya.masih mau lanjut kan? Yuk buruan dibaca lagi.go!!! )

            Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke lamno, saat perjalanan kami yang terasa sangat jauh tersebut terasa sangat singkat karena kami di sepanjang perjalanan dihibur oleh pemandangan yang sangat menabjubkan apalagi waktu kami sampai ke salah satu jalan yag sangat sulit dilewati yaitu jalan atau rute gunung gurute yang medannya dua kali lipat dari medan selawah tetapi saaat kami di jalan tersebut tidak terasa sulit karena pemandangan yang begitu indah dan aku pun begitu takjub dengan bumi Aceh yang tercinta sehingga aku tidak tersadar mengucapkan kalimat yang begitu bersyukur .

            “ Oh,Tuhan ! Begitu indah ciptaan engkau ! ” Gumamku dengan nada yang sangat kecil.
            Setelah kami puat disuguhkan pemandangan yang sangat indah oleh rute Gurute,kami pun sampai ke tempat tujuan kami,tapi sangat saying waktu itu aku belum menyukai fotografi sehingga aku di mengabadikan momen indah tersebut..hehehehehehehe
Padahal aku sangat ingin mengabadikan momen tersebut tapi yang harus bagaimana lagi yang berlalu yang biarlah berlalu.

( sudah sampai ya cerita kita,oh ya udah sampai ke lamno,mau tau lanjutannya, kalau bilang gak mau ya harus mau, sebab yang tulis cerita saya,hehehehe,yok kita lanjut! )

            Kami pun sampai dilamno,tapi aku cuma mau cerita waktu kami mau pulang aja,karena waktu kami menginab gak akan nyambung dengan judul cerpen saya sobat.   
        
            Pas waktu kami pulang kami pun berziarah terlebih dahulu ke makam poe termerhom ,sesampainya di ditu kami harus mendaki dahulu lebih kurang kurang lebih gak tahu berapa jumlah anak tangganya hehehe

            Sesampainya diatas pemandangannya subhanallah begitu indahnya bahkan disitu ada satu guci keramat yang air didalam guci tersebut walaupun diambil terus menerus takkan habis airnya.

            “ Subhanallah,begitu besar kuasa mu Ya Allah” Ucapku dalam hati.
            Dan dimulailah aku menjadi fotografer terkenal lagi,aku pun dengan tangkas nya mengambil kamera untuk mengabadikan momen saat mereka menyuruhku untuk memotret mereka. Aku pun saat lelah mengabadikan momen tapi aku juga senang karena dari situlah bias membuat aku menjadi seorang fotografer pemula dan bisa menulis cerpen ini..hehehehe

            Setelah puas kami berfoto-foto disitu, kami pun melanjutkan pejalanan untuk kembali ke Matangglumpangdua, dan mobil kami pun melaju dengan kencang seakan akan jalan itu milik kami,

( eiiits,tunggu dulu,kalian pikir cerita udah habis? Jangan stop bacanya karena saya akan melanjutkan ke ziarah makam syiah kuala, dan itu cerita sebelum berkunjung ke yang cerita lain karena masih panjang banget lo cerita belum saat pulang dan resminya aku jadi fotografer. Tapi masih mau bacakan ceritanya,kalau mau yuk kita lanjut,go?)

            Sesampainya aku di makam syiah kuala aku pun langsung bergegas turun mobil karena aku sangat ingin melihat makam tokoh islam di Aceh dan sesampainya di depan makam aku langsung jadi sasaran teman aku yang tidak lain tidak bukan  hanya untuk menyuruh aku untuk memotret mereka.pada saat itu?
            “ Ry? Sini! “ panggil temanku dari jauh.
            “ iya ada apa?” jawabku dari kejauhan.
            “ bantu aku ya! Pinta temanku
            Sebelum aku menuruti permintaan temanku ini,aku sudah tahu apa yang dia minta,yaitu mau menyuruh aku untuk memotret mereka,dan aku pun memikirkan alasan untuk menolak permintaan tersebut,dan pas aku sedang berpikir ada teman satu mobilku megajak ke dalam makam untuk berdoa dan ajakan dia tidak aku sia-siakan dan bias menjadi alasan aku untuk menolak permintaan temanku itu.
            “ mau aku bantu apa?” balas aku bertanya.
            “ fotoin kami bentar ya?” pinta dia
            Aku pun menjawab dengan alasan tadi.
            “ oh tidak bisa bro!” jawabku dengan gurau.
            “ kenapa?” dia malah kaget.
            “ aku mau kedalam dulu!” jawabku singkat.
            “ bentaran doan ry.ayolah?” dia malah makin memaksa.
            “ gak bisam.tuh aku udah dipanggil oleh tengku muksal.” Jawabku geram.
            Sebelum dia menjawab aku pun langsung berjalan menjauh dan mengucapkan kata
            “ daah! Nanti aja fotonya ya.oke” jawabku singkat sambil berjalan menjauh.
            Aku pun langsung mengikuti langkah temanku yang berjalan duluan yang ingin cepat-cepat masuk karena sebentar lagi akan ditutup. Didalam suasana cuku menegangkan dank u pun berdoa dengan doa yang aku bias sambil menunggu temanku yang juga berdoa.
( aduh,kalian mulai bosan ya. Dan bertanya-tanya mulai gak nyambung kok cerita nya,malah ke makam dan saya bilang ini puncak karir ke fotografer, tapi tenang dulu baca aja terus setelah nanti saya berdoa dan keluar dari makam baru dimulai, tunggu aja,masih sanggup nunggu kan,kalau masih mau nunggu yok kita lanjut cerita?hehehehe.)
            Aku pun selesai berdoa dan temanku juga dan aku pun langsung dipanggil oleh temanku yang tadi untuk fotoi mereka.dan disinilah dunia fotografiku dimulai,
            “ ry fotonya dari bawah,jangan gitu,kesini lagi,Nampak gak?” pinta nya dengan nada tinggi.        
            “iyaiya” jawabku singkat.
            “sini,disini juga bagus.!” Panggil dia.
            Aku hanya mengikuti kata mereka dan jadilah aku disuruh kesana kemari untuk memotret mereka dengan berbagai macam gaya yang saat itu bias dikatakan lebay sih,hehehe
Dan tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 6 sore dan kami pun bergegas pergi dan pulang ke kampung tercinta dan saat itu juga aku pun mulai mempelajari dunia fotografi yang sangat cukup rumit bagi seorang pemula bagi aku. Dan aku pun mulai berpergian untuk memotret orang yang ingin difoto oleh aku,walaupun fotonya bagus tapi sayang editan nya belum benar-benar bagus dan aku pun masih belajar dan belajara supaya aku bias menjadi fotografer yang terkenal.Amin. dan aku pun bersyukur dari pengalamanku yang begitu sulit karena jadi suruhan orang, sekarang aku pun merintis karir ke dunia fotografi dengan bantuan orang-orang disekitarku dan aku berterima kasih kepada mereka.

Note: Saya ucapkan terima kasih bagi pembaca cerpen ini dan saya mohon kritik dan sarannya di kolom komentar dan jangan lupa ikuti ya bagi yang mau ikuti dan Ditunggu ya cerpen-cerpen saya di kemudian hari sekian dan sampai jumpa di cerpen berikutnya.Wassalam.
           




Tuesday, 30 June 2015

Cerpen : Kenangan Pahit di Putih Abu-Abu

Kenangan Pahit di PUTIH Abu-Abu
Oleh : Muhammad Diaulhak


Ujian nasional telah berlalu seminggu yang lalu. Sementara itu Alifia terus menerus memandang bingkai foto yang di pegangnya sedari tadi. Di foto itu, tampak ia sedang tersenyum manis dan di sebelahnya ada .. Reza. Pacarnya saat ini, Reza satu sekolah dengan Alifia. Mereka sudah lama berpacaran. Sejak mereka kelas 10 dulu tepatnya.

             Rasa takut terus menghampiri Alifia. Ia takut ketika lulus nanti Reza memutuskan hubungan dengannya, atau kemungkinan lain yang mungkin bisa saja terjadi. Ia begitu menyayangi sosok Reza. Bahkan karnanya, Reza yang tadinya bernotaben anak nakal sekarang berubah menjadi anak yang lebih sopan dan lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua telah berjanji bila lulus nanti akan satu perguruan tinggi.

              Ringtone lagu Rihanna berjudul we found love berbunyi keras saat Alifia sedang asyik-asyiknya memandangi fotonya dan Reza. Di layar handphone tertulis REZA LOVE calling. Seketika itu wajah Alifia berubah menjadi wajah kebahagiaan.


"Halo?", sapa suara di seberang sana.

"Iya beb, ada apa?"

"Lagi apa kamu beb?"

"Lagi nyantai aja, kamunya?"

"Iya sama nih, ntar malem nonton yuk"

"Ayukk"

"Ntar aku jemput ya beb jam 7, dandan yang cantik. OK? Loveyou babe"

KLIK! telfon dimatikan.

Alifia tersenyum senang lalu berdiri, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.

30 menit kemudian ...

TAADAAAH!! Alifia tampak cantik mengenakan kaos pink di padukan dengan celana jeans 3/4 dan dibubuhi dengan sedikit lipgloss di bibirnya serta tatanan rambut dikucir buntut kuda. Perfecto!



"Mamaaa gimana cocok gak?", Tanya Alifia

"Cocok kok sayang, gaya nya anak muda dan sederhana banget. mama suka", Mama melihat anaknya kagum.

TIN!! TIN!!

Suara klakson motor Reza.

"Mama, aku berangkat dulu yaa", kata Alifia sambil mencium pipi Mamanya. Lalu segera beranjak dan pergi bersama Reza.

Di perjalanan ...

"Za, kita mau nonton film apa sih?", tanya Alifia penasaran

"Kita ga nonton film ko sayang, kita nonton pemandangan", jawab Reza datar.

"Hah?"

"Udah deh ntar kamu juga tau tempatnya"

Setelah sampai ..

"Liat deh Vi, bagus kan pemandangan dari sini?" kata Reza sambil menggenggam lembut tangan Alifia.

"Iya Reza, terus kamu ngapain bawa aku ke sini?" tanya Alifia penasaran.

"Aku mau ngomong sesuatu .."

"Apa?"

"Lulus SMA ini aku akan pindah ke Ausi Vi, karna Papa akan pindah kerja disana.."

Hening.

"Vi.."

"Hem.."

"Kok diem?"

"Kamu mau ninggalin aku disini sendiri Za? kamu tega? hah! aku salah apa sih sama kamu! tega yaa kamu!" Alifia melepaskan genggaman Reza. Air matanya pecah menghujani pipinya. Perasaannya tak menentu kali ini.



"Bukan gitu Vi, aku sayang sama kamu. SELALU SAYANG KAMU! percaya sama aku please. Aku akan balik ke Indonesia setelah 5 tahun disana. Tunggu aku ya " Reza memeluk Alifia.

"Reza.."

"Iya sayang"

"I love you"

Alifia merangkul leher Reza lalu mencium bibirnya lembut.

"Aku akan nunggu kamu Za. Entah itu 5 tahun 100 tahun bahkan 1000 tahun kamu akan aku tunggu"

Reza tersenyum manis sekali, namun tidak semanis hati Alifia saat ini.

"Pulang yuk, udah malem"

"Yuk"

Di tengah perjalanan..

Alifia terus memeluk Reza. Ia tidak mau melepaskannya. Membuat konsentrasi Reza terganggu.

TIIIINNNNNNNN!!!! BRAAAKKKKK!!

Sebuah bus dari arah samping menabrak Alifia dan Reza. Mereka koma. Selama beberapa minggu lamanya.

Sayang, nyawa Reza tidak tertolong. Ia mendahului Alifia yang sedang terbaring koma.

Seminggu Kemudian ...

"Mmmhh" erangan kecil terdengar di telinga Mama Alifia.

"Alifia? Kamu udah sadar sayang? Dokterrr!!!" Panggil Mama.

Dokter segera memeriksa keadaan Alifia.

"Bu, pasien sudah sadar saat ini, sejauh ini kami menemukan kemajuan pada pasien." kata dokter.

"Saya boleh masuk dok?" Tanya Mama.

"Silahkan"


Mama masuk ruang rawat Alifia.

"Sayang, kamu udah sadar?"

"Reza mana ma? aku kangen dia. Aku mimpi Reza ninggalin aku. Itu ga bener kan?"

Mama hanya menunduk sedih.

"Ma! jawab Reza manaa!! maaa!! jangan bilang kalo.."

"Reza udah ga ada Vi, dia meninggal"

"Gakkk!! gak mungkin!! Reza bilang dia ga bakal ninggalin aku!! Reza pasti bohong!! ga mungkinnnnn!!!!!!" Teriak Alifia. Cairan hangat ber air mengalir lembut di pipinya.
*****




Cerpen : Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Oleh :  Safrina

            Pagi hari yang cerah ku terima satu pesan cinta dari kekasih hatiku. Seperti biasanya ia membangunkanku untuk menghadap sang pencipta.
            “sayang jangan lupa shalat subuh ya?”.aku selalu terbangun di setiap pesan masuk darinya.
            Pulang sekolah ku istirahat sejenak, sore harinya seperti biasanya aku berangkat les privat. Disana kutemui guru muda,kreatif, dan tampan, yang biasanya mengajariku praktek komputer.
            “selamat sore,apa yang  sudah kita pelajari kemarin ?” tanya bapak itu mengawali pelajaran kami.
            “sore pak….,kemarin kita belajar tentang adobe photoshop pak !” aku menjawabnya dengan lantang.
Guru tampan itu bernama pak Ardian.kalau di les aku sering memanggilnya dengan sebutan pak Dian. Namun kalau diluar jam les aku memanggilnya abang Dian.  Dia sendiri yang memintaku, karena tidak mau di panggil bapak,terlalu formal katanya.
            Aku mempunyai kekasih yang sangat mencintaiku. Dia juga sangat perhatian padaku, tetapi dia sangat posesif. Sifat kecemburuannya itulah yang membuat aku kurang suka darinya.
 Setiap pulang sekolah selulerku selalu menerima pesan dari sang pujaan hatiku.
            “sayang,sudah pulang sekolah belum..? kalau sudah pulang sayang hati-hati di jalan ya, sayang juga jangan bicara sama cowok ya………!!!” beginilah pesan yang tak pernah absen dari pujaan hatiku di setiap pulang sekolah.
            Pujaan hatiku namanya Syukran. Tak terasa dua tahun lamanya sudah lamanya aku sudah menjalin hubungan dengannya. Sampai di suatu hari datanglah pak Ardian bersama temannya Ardi ke rumahku untuk sekedar bersilaturahmi,aku tak tahu maksud kedatangannya yang pasti itu adalah salah satu alasannya.
            Aku sudah lama komunikasi sama Ardi kawan guru lesku itu. Tetapi aku belum mengenalnya dan dia juga belum mengenal aku. Pertama aku hanya menganggap dia hanya sebatas teman biasa saja. Karena perhatiannya yang lebih, akupun menaruh hati padanya. Sebenarnya, aku tidak tega mendua dari kekasihku Syukran. Karena dia itu orangnya baik, dan mempunyai paras yang tampan, tetapi aku juga merasa bosan dengan tingkahnya selama ini selalu mengekangku, padahal aku selalu menuruti kata-katanya.
            Dua bulan sudah aku berbagi cinta antara Syukran dan Ardi tanpa sepengetahuan Syukran atau Ardi kekasih pertamaku dan kedua. Syukran itu adalah salah satu santri yang ada di pesantren Darul Ulum. Kami jarang ketemu karena dia sebulan sekali pulang. Itu pun kalau ada sesuatu yang penting, jadi kami tidak sempat untuk bertemu. Tetapi semua itu tidak menjadi sebuah masalah kami berdua. Dia bisa menerima keadaanku dan aku juga mencoba menerima keadaannya.
            Sebulan lamanya aku menunggu kabar dari Ardi. Rindu rasanya menyesak dalam hatiku. Tiba-tiba saja aku menerima pesan dari nomor yang tak kukenali.
            “sayang…” itulah pesan yang masuk ke selulerku. Hatiku berdebar kencang. Langsung ku balas.
            “ini siapa ya ?”.
            “ini bang Ardi sayang…..”. aku pun sangat bahagia, aku meloncat-loncat kegirangan. Malam itupun kekasihku Ardi menelponku.
            Ardi :”assalamualaikum sayang…?”
            Aku :”waalaikumsalam sayang….”
            Ardi :”sayang gimana kabarnya sekarang ?”
            Aku : “sehat,sayang gimana ?”
            Ardi :”sehat juga”.
            Lama kami berbincang - bincang tiba-tiba telponnya putus, aku tidak tahu kenapa. Sampai sebulan aku harus menunggu kabarnya kembali. Ternyata akibat dia bermain hp. Hpnya pun disita oleh pemimpin pesantren itu. Dia menceritakannya sewaktu dia pulang dari pesantren Darul Ulum.
            Aku merasa senang dengan keadaan yang sedang menimpaku kali ini. Karena aku bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari dua  orang laki-laki yang aku cintai. Aku juga merasa cemas. Aku takut kalau akhirnya nanti mereka tahu aku telah menduakan mereka dan mereka pasti akan meninggalkanku. Aku tidak ingin semuanya itu terjadi.
            “kring-kring.’ Dari luar aku langsung lari ke kamar karena hpku bunyi, ternyata kekasihku Syukran yang sudah menelponku dari tadi. Kali ini langsung ku angkat
            Aku :”hallo sayang..?”
            Syukran :”hy sayang…,sayang kenapa enggak ada kabar hari ini, abang disini memikirkan sayang.”
            Aku :”maaf sayang ya…adek enggak sempat ngasih kabar karena adek buru-buru pergi sekolahnya.
            Syukran :”ya sayang,tapi sayang jangan lupa jaga kesehatan sayang ya “
            Aku :”iya sayang “.
Setiap aku mengangkat telpon  darinya itu, selalu itu-itu saja yang di tanyakan kepadaku, terkadang aku marah sendiri, bukannya aku tidak suka laki-laki yang perhatian, aku suka, tapi jangan terlalu berlebihan.
Dulu aku di kenal dengan cewek setia di antara teman-temanku.tapi sekarang tidak lagi. Aku mendua karena aku sudah tidak tahan dengan perlakuan kekasihku Syukran yang semena-mena dalam hidupku. Aku merasa tertekan dengannya.
Sebenarnya aku juga capek dengan semua ini karena aku harus pandai dalam membagi waktuku, kalau tidak,semua ini bisa berantakan dan aku ditinggali keduanya.semoga saja ini bisa teratasi dengan baik
Inilah sandiwara cinta dalam hidupku, dan aku tidak tahu sampai kapan aku harus membohongi diriku sendiri, menyakiti orang yang sangat mencintaiku. Aku hanya mampu cemas setiap hari, dan bertanya akankah cintaku akan berakhir dengan tragis………?

TAMAT


Cerpen : Sahabatku Cintaku

Sahabatku Cintaku
Oleh : Eva Susanti

            Kamu orang yang membuatku nyaman dan bahagia. Selalu menjagaku tanpa lelah,tapi rasa ini sunnguh menyiksaku.menunggu kepastian tanpa balasan.
Dia sahabatku,tapi dia juga nafasku…dia ….Aditia.  sejak pertama aku kenal dia,tatapannya itu,masih teringat jelas di memoriku, senyuman dia membuatku tenang dan damai. Dia selalu menjagaku sampai kapan pun dan dimanapun. Setiap aku DOWN dia selalu memegang erat tanganku. Dan membuatku bangkit lagi.
            Mungkin aku terlalu egois,terlalu berharap untuk memilikinya,tapi aku tak bisa selalu berpura-pura untuk tidak mencintai. Tapi disisi lain kalau kita bisa jadian aku takut,aku sangat takut kehilangan dia,aku gak mau dia hilang dari mata hatiku,tapi disisi lain juga aku pengen banget milikin dia. Supaya semua orang tahu dia milik aku,bukan milik orang lain.
            Aku selalu menahan rasa sakit ini,ketika teman-temankuku menanyakan kedekatanku dengan Aditia selama ini. Aku sakit ketika aku harus bilang bukan dia hanya temanku. Dan mereka pun menjawab,padahal udah cocok banget,jadian aja,aku hanya membalas dengan senyuman,tapi perlahan masalah itu sudah jadi hal biasa dalam untukku,karena Aditia mengajarkanku untuk bertindak dan bersikap yang dewasa. Aku gak berani bilang Aditia adalah segalanya buatku, karena aku segalanya aku hilang.


            Aku selalu berusaha menjadi wanita yang dewasa yang ingin selalu berfikir positif,jadi aku terkadang berfikir kalu hubungan dengan Aditia jauh lebih baik bahagia. Aku takut jika kita pacaran lalu putus dan gak bisa dekat lagi, mendingan kayak sekarang dan dia gak ninggalin aku kecuali mempunyai cinta nya yang baru.
            Aditia seseorang yang paling berharga buat aku sekarang ,andaikan aku mampu berkata di depanya bawa aku sayang dia dan gak mau kehilangan dia,mungkin akan lebih tenang, tapi beberapa kali aku mencoba untuk mengatakannya, malah yang ada hanya gemetran yang kurasa,mungkin belum saatnya aku berkata seperti itu. Tawa dan candanya adalah warna dihidupku. Aku tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Aditia juga adalah salah satu alasan yang membuatku betah di masa SMA yag dulu yang aku anggap biasa saja.
            Aku masih duduk manis di samping nya menjadi teman biasa. Entah akankah posisi itu berubah.
            AKU PUN TAK TAU ………..?


TAMAT

Cerpen : Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Oleh : Deva  Setiawati

Pagi itu, seorang gadis SMA bernama Sika memanggil teman akrabnya yang bernama Dion. Mereka sudah kenal sejak kelas 3 SD. Tapi sejak Sika pindah sekolah, Mereka tidak pernah bertemu lagi, dan sudah saling melupakan, tapi akhirnya sekarang mereka bertemu kembali, mereka bersekolah  di SMA yang sama.
Mereka pun bersahabat kembali seperti dulu. Suatu hari, Dion melihat Sika sedang menangis, Dion pun menghampiri Sika dan menyapa Sika dengan panggilan manjanya.
“cantik, sepertinya ada sesuatu deeh yang keluar dari matamu”
“Dion, tolong jangan ganggu aku hari ini saja, aku sedang tak mau di ganggu,”jawab Sika
“tapi Sika, aku harus menghapus air mata di pipimu,aku tak bisa melihat sahabatku yang cantik tertawa.
“Dion ……,aku lagi nangis tahu, bukan ketawa,”
Dengan candaan Dion, Sika pun bisa tersenyum. Dion sengaja tidak menanyakan apa masalah Sika, karena dia tahu bagaimana sifat Sika. Kalau Sika sudah tenang, pasti dia cerita padaku pikir  Dion.
            Keesokan harinya, Sika sengaja datang agak pagi, karena ingin memberi kejutan kepada Dion, karena pada hari itu Dion sedang berulang tahun, tak lama Dion pun datang , diam-diam Sika membawa kue lengkap dengan lilin diatasnya.
                   “ surprise… selamat ulang tahun Dion, tiup dong lilinnya,”ucap Sika.
                   “eh si cantik ku muncul dengan membawa kue untuk ultahku,makasih yang cantik,” sambil         memegang kepala Sika.
                   “ Dion,kamu mau hadiah apa dari aku.”
                   “Sika,aku gak mau apa-apa, yang aku mau mau kamu bisa jujur padaku,kenapa kemarin kamu menangis,”
Sika menjawab.
                   “Dion sahabatku,itu masalahku,aku tidak mau membebani hidupmu,lain aja ya hadiahnya”
                   “ya sudah, tak apa,terima kasih, aku tak mau apa-apa,”jawab Dion kesal.
                   Sika hanya tersenyum, dia tahu pasti Dion marah. Ketika mereka pulang sekolah. Dion pun langsung pulang. Diam-diam Dion suka sama Sika,sahabatnya yang paling manja itu, ketika Dion sedang merenung di kamar, terdengar seorang mengetuk pintu kamarnya, tok….tok…tok…..
                   “siapa ya.” Tanya Dionn
                   “Dion, ini aku Sika.”
                   “hah,Sika ? masuk deh, ada apa Sik,”tanya Dion.
                   “Dion aku minta maaf soal tadi,aku tidak sengaja membuatmu marah,senyum dong.”
Dion tetap saja diam.
                   “ia deh aku cerita.”
Muka Dion pun langsung ceria kembali.
                   “sebenarnya, aku itu baru putus dari Ryan.”
Waduh ada kesempatan ini untuk aku dekat lebih jauh dengan Sika,pikir Dion dalam hati.
                   “woi, kok bengong sih,,”
Seketika lamunan Dion pun hilang,
                   “oh, iya, apa ya.”
                   “kamu gak dengerin ya Dion.”
                   “dengerin kok cantik.”
                   “iya gitu, Ryan mutusin aku tiba-tiba aku gak tahu apa salahku,” Sika pun bersandar di bahu Dion sampai air matanya membasahi kaos oblong Dion.
Tak terasa, hari ini pun bergegas pulang.
                   Keesokan harinya disekolah Dion mencari Sika kemana-mana. Tak lama bel tanda masuk pun berbunyi, tapi bangku Sika tetap saja kosong. dan itu artinya Sika tak sekolah hari ini . kenapa si cantik gak sekolah ya?(pikir Dion dalam hati).
Kemudian seseorang pun mengetuk pintu kelas, ternyata yang datang adalah Bu Riana guru bahasa Indonesia dengan membawa note piket di tangannya.
                   “anak-anak,hari ini Sika tidak masuk sekolah, dia sakit dan ini surat dokternya.”
                   “bu, Sika sakit apa?” Tanya Dion langsung,
                   “ibu juga kurang tahu,” jawab Bu Riana.

                   Setelah pulang sekolah, Dion pun menelpon Sika.
Dion : hallo Sik.
Sika : ia hallo
Dion : sik, kenapa kamu gak masuk sekolah hari ini.
Sika : aku lagi sakit Dion.
Dion : kamu sakit kok gak bilang-bilang sih sama aku, kamu itu gak anggap aku ada ya ? sekarang   kamu dimana.
Sika  : RS Citra Medika.
Dion : oke.
                   Tak lama  Dion pun datang menjenguk Sika. Dion pun langsung menyerbu Sika dengan sejumlah pertanyaannya.
                   “ Sik, kok kamu gak bilang sih kamu sakit, aku khawatir tahu,kamu sakit apa? Sepertinya kemaren kamu baik-baik saja”
Sika hanya tersenyum melihat Dion yang sedang memarahinya,
                   “Dion kok cerewet banget sih ? mau gantiin posisi aku ya jadi orang yang cerewet?” saut Sika.
                   “ Sik, bukannya gitu, aku khawatir dengan keadaanmu,aku gak mau kamu kenapa-napa,
Sika pun menjawab.
                   “Dion, kamu sayang aku gak,”
                   “Sika aku itu sayang banget sama kamu.”
                   “yon,kok jadi mellow gitu sih mukanya,aku juga sayang kamu, karena kamu itu sahabat aku,
Mendengar jawaban Sika. Dion terkejut, bagaikan ada petir yang lewat di hadapannya. Dion pun hanya menjawab.
                   “oh iya,aku juga gitu. Aku balik ya Sik”
Sambil menutup rasa sedihnya Dion pun pulang.



                   Setelah dua bulan Sika putus dari Ryan. Dion pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Ketika Dion mengajak Sika jalan-jalan ke taman kota. Dion pun langsung memegang tangan Sika.
                   “ Sika, sejak aku kenal kamu aku ngerasa, aku nyaman banget sama kamu,” kata Dion.
Sika menjawab
                   “Dion,kamu apa-apaan sih,”
                   “Sika, percaya gak percaya ini kenyataannya,aku itu sayang kamu Sika,”
                   “Dion,antar aku pulang sekarang!!!!.tolong jangan ganggu aku,”
Dengan muka cemberut dan penuh sesal, Dion pun mengantar Sika pulang.
                   Seminggu setelah Sika diam. Lalu Sika pun mengatakan sesuatu pada Dion,mereka bertemu di taman kota ,di tempat Sika marah pada Dion.
                   “Dion, setelah aku fikir-fikir, kamu yang selalu ada untukku,kamu yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi,kamupun yang selalu jadi sandaranku.”
Lalu Sika memeluk Dion dengan erat dengan mengatakan.
                   “Dion,aku sayang kamu,kamu itu segalanya buat aku.”
                   “Sika,akhirnya kamu ngerti perasaan aku,Sika kamu maukan jadi pacar aku,”
Sika menjawab dengan cepat.
                   “nggak..nggak,nggak..”
                   “loh,kok gak mau,”
                   “nggak kenapa. Dion aku itu nggak bisa nolak kamu,”
                   “leh si cantikku,bisa juga dia gombal,emm…gemesin deh si cantikkku.”
Akhirnya, dua sahabat itu menjadi sepasang kekasih. Mereka pun berdua sangat bahagia…
                   Sekian ………..

TAMAT


Cerpen : Peluh Kesetiaan

Peluh Kesetiaan
Oleh: Cut Yulinanda Putri Vonna
                                   

“Liana, apakah kamu lihat betapa indah awan itu ?” tanya Bima. Tanpa menjawab aku mengangguk setuju dengan pendapat. Dua tahun lamanya aku dan Bima sering bersama karena kami satu tempat les musik di daerah keraton  Jogja.
“Ana, kita makan pecel lele mbok  Girah yuk ! “ ajak Bima.
“Ah tidak, aku malas “
“Sudahlah ayo ! “ dia menarik keras tanganku hingga rasanya cemgkeraman tangan Bima membekas  cap merah di tanganku. Kami berdua berlari-lari kecil di sepanjang jalan ramai malioboro.
            “ mbok , , biasa , ,  dua pecel lele sma  dua teh hangat “,”injeh” jawab mbok Girah dengan logat jawanya yang santun. Kebersamaan seperti itulah yang sering kami lewati ketika ada waktu senggang untuk bertemu atau setelah jam les musik selesai.
“Bima ,kamu jadi kuliah di Malang ?”
“yo jelas jadi toh, aku kan ingin sekali pindah kesana.”
“hem..iya “,hatiku rasanya tak rela dan tak puas dengan jawaban Bima yang seolah-olah tak bersalah karena meninggalkanku sendiri di Jogja ini.
“hush ! jangan melamun, ditinggal cowok ganteng dan keren ini sudah bisa mebuatmu gila ya ? hahahaha (mengagetkan lamunanku ).
“kamu mengejekku?” “kesalku,
“tidakkah begitu ? “jawab Bima bertanya-tanya.   
Lelah jalan bersama Bima seharian membuatku tertidur di sofa empuk dekat kamar mamaku.
“liana ,,bangun,sholat dulu”, suara lembut mama membuatku semakin nyenyak tidur.
“iya mah,sebentar lagi ya ? “”keluhku,
“kamu gak takut dosa ? “
Sebelum mama bicra panjang lebar, segera aku bergegas bangun unuk mengambil air wudhu dan sholat magrib.
            Makan malam sengaja disiapkan mama karena kakakku pulang dari Surabaya ,dimana iya bekerja.
“gimana sekolahmu Ana?”kata kakakku mengawali pembicaraan mkan malam waktu itu.
“biasa aja ka” sambil melahap makan aku menjawab pertanyaannya
“tiga bulan lagi kamu lulus dek, mau kuliah dimana ? sebaiknya kamu kulia disini saja, kasihan kalu mama sendiri di Jogja”. Itulah ucapan kakak yang selalu bisa ku tebak setiap hari ia menanyakan sekolahku.sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliah di Malang sama seperti Bima.
            “Cerah sekali pagi ini Ana ,seperti matamu yang berbinar-binar ketika melihatku”.aku hanyaterdiam mendengar celotehnya.
“Ana ..bagaimana jika  nanti aku pergi darimu ? “,sontak aku melihat wajah Bima dengan kekecewaan di wajahnya.
“munkin aku akan menangis dan mendoakanmu agar cepat mati “ jawabku asal.
“masih bisa bercanda ? aku serius !”.
Yah ..itukan cita-citamu sejak dulu,kamu punya hp,aku juga punya, apa endak bisa kita komunikasi?” (menerangkan)
“yowes,aku tenang jadinya .”sungguh,senyum Bima membuatku sanagt bahagia walaupun suatu saat akau harus menangis tersedu-sedu melihat Bima pergi.
            “Ana ! hebat kamu dpat nilai terbaik” kata Rissa teman satu kelasku yang pandai bebahasa inggris.
“ya donnk, miss english, it’s not impossible !”
            Dengan seragamku yang penuh coretan pilok khas anak sma yang lulus, akau berjalan menyusuri malaioboro menuju komplek derah muntabali dekat teramai di Jogja.
            “ ting tong “ bunyi bel keras  lantang memanggil pemilik bel itu.
“siapa ya “,
“Tin kumat ya pikunmu? Aku Ana ,,mana Bima  cepat panggil
“perintahku tak sabaran.
“den Bima belum pulang non “.
“loh sudah sore begini belum pulang ya ? ya sudahlah
“jawabku sedikit kecewa.

            Dibawah temaram lampu alun-alun Jogja yang redup dan ramai ada dua insan tiduran diatas rumput hijau yang basah  akibat rintik hujan tadi sore. Aku dan Bima sering melihat bintang bersama disini untuk saling bercerita  untuk mengungkapkan hal yang belum kami ketahui satu sama lain. Malam ini terasa berbeda,esok hari ia akan meninggalkanku ke Malang.

            “Ana..?”
            “iya”
“maukah kamu berjanji tidak akan melupakanku dan menunggu teman tergantengmu ini kembali?”
“aku janji,tapi…”
“tapi opo maneh?! (membentakku)
“pedemu itu dihilangin ya?haha.Bima memukul kecil lenganku.
            Kami terus bersenda gurau sampai entah berapa lama waktu yang sudah kami lewatkan hanya untuk bercanda saja..
            Jalan malioboro masih saja rami padahal  waktu sudah menunjukkan larut malam,bahkan bulan ingin sekali segera menghilang. Aku sangat sedih karena hari-hariku tidak akan lagi sebahagia malam ini,Bima akan pergi. Aku berharap suatu saat aku dan Bima akan bertemu kembali.
            “Bima,boleh aku bertanya ?” tanyaku.
            “apa?” jawab Bima.                                                                   
            “apakah kau menyukaiku?”
            “hahahaha ngomong opo toh kamu ini ?”
Aku sangat malu mendengar jawaban Bima dan hanya mampu menunduk malu.
            “Ana ..yang jelas aku suka kamu ,aku tresna sama kamu,kalau ndak ya nggak mungkin aku sedih ninggalin kamu”
Mataku berbinar-binar serasa rohku terbang melayang ke awan.
            “benarkah ?
            “tapi kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?”tanyaku
            “karena aku tidak ingin melukai hatimu Ana, aku tau akan berpisah. Jadi, lebih baik kita bersahabat saja.”
            Tak anggupku bendung kesedihanku tapi dengan alasannya itu aku mengerti dam mampu untuk tegar.
            Pukul 07.00, aku melepas kepergian Bima sahabat yang aku cintai di stasiun Jogja. Air mataku berlinang deras membasahi pipi dan beberapa tisu yang kubawa. Berlalu dengan cepat kereta jurusan  Malang meninggalkan tempat dimana aku berdiri.
            Beberapa menit  dengan mataku lebamku.
“sudah berangkat Bima ,nduk?”tanya mama.
“hm”jawabku sinkat,
“udah jangan sedih,berdoalah agar cita-citanya dapat tercapai dan kembali kesini.”
Tanpa menjawab perkataan mama aku berlari ke kamar, menangis lagi sampai tertidur.
            “Ana ….Ana …Ana anakku !”teriak mama sambil mengetuk keras pintu kamarku1
            “ada apa ma?”
            Mama menarik tanganku dengan cepat duduk di sofa depan tv,aku meliha tanyangan tv yang ditunjuk mama sambil membenahi rambutku yang acak-acakan,
            Terdengar suara disela-sela volume tv : “ Berita kecelakaan  patah rel kereta api jalur malang siang ini mengakibatkan  80% penumpangnya tewas” tengelingaku mendengung,mataku nanar,tanganku gemetar,dan tubuhku terasa lemas tak berdaya.
            Aku berlari keluar rumah menuju stasiun menangis tersedu-sedu di sepanjang jalan. Sesampainya di stasiun ramai sekali dengan jerit tangis keluarga korban lain. Sekitar  lima kilometer berlari dari rumah dengan kaki tanpa alas menapaki jalan aspal yang panas akibat pancaran sinar matahari.
            Bima telah pergi untuk selamanya.
Sejak itu,setiap hari dan jam yang sama selalu aku berkunjung ke stasiun hanya sekedar menabur bunga dan duduk melihat kereta tujuan Malang berlalu meninggalkanku sama seperti saat terakhir  kali aku dan Bima berpisah entah sampai kapan aku terus melakukan kebiasaan ini.

TAMAT


Makalah : Sistem Pedidikan Nasional