Tuesday, 6 October 2015

Artikel : Tiga Tahun Pembangunan Kabupaten Bireuen di Bawah Kepemimpinan Harus Muda Menyongsong Visit Bireuen Year 2018

Tiga Tahun Pembangunan Kabupaten Bireuen di Bawah Kepemimpinan Harus Muda Menyongsong Visit Bireuen Year 2018
            Judul tersebut mengingatkan kita kepada bagaimana roda pemerintahan di Kabupaten Bireuen yang bisa dikatakan makin maju juga bisa dikatakan masih banyak yang harus diperbaiki. Sebelum kita memasuki sub tema yang harus dibahas saya ingin bilang bahwa seperti yang kita ketahui bahwa daerah Aceh terkenal dengan otonomi sendiri dan uang pembangunan yang cukup banyak yang pemerintah pusat tapi sayangnya seperti terdengar dari berita-berita bahwa dari 100%  uang yang diberikan hanya 39% yang diserap dan digunakan oleh pemerintah Aceh, sisanya yang 61%  katanya uang tersebut tidak tahu harus dipakai untuk apa.
            Sebelum dijawab pertanyaan tersebut mari kitah bahas satu persatu masalah tentang pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan keagamaan supaya pemerintah tahu harus dibawa kemana uang tersebut khususnya untuk Kabupaten Bireuen.
Pembangunan Infrastruktur
 Seperti yang kita ketahui, menyikapi peningkatan pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Bireuen, seperti pembangunan jalan dan lainnya meskipun ada daerah yang belum tersentuh dan itu akan menjadi proritas. Walaupun banyak pembangunan dan hampir setiap desa telah mengalami kemajuan infrastruktur khususnya dalam pembangunan jalan tapi masih banyak pembangunan infrastruktur lainnya yang masih jauh dari harapan warga kabupaten bireuen, misalnya pembangunan irigasi untuk desa yang berada didaerah perbukitan itu masih sampai sekarang hanyalah impian bagi warga setempat. Proyek yang sangat diinginkan oleh warga daerah tersebut bisa jadi cuma harapan masyarakat karena pemerintah sekarang bisa dikatakan pembangunan infrastruktur bukan untuk masyarakat tapi hanya untuk kepentingan pemerintah saja, bukan apa-apa, pemerintah itu diangkat dari rakyat dan untuk rakyat, masih anda lupa dengan pelajaran ppkn kelas 4 sekolah dasar yang mengajarkan hal tersebut.
Masih banyak infrastruktur yang kurang layak dan harus dibangun di Kabupaten Bireuen kita tercinta ini. Tapi, Alhamdullillah ada juga yang mengalami kemajuan yang cukup meningkat dari tahun – tahun dahulu.

Misalnya seperti tadi pembangunan jalan dan juga dalam pembangunan tempat pendidikan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan sangat membantu sekali bagi warga atau masyarakat yang tinggal di daerah pelosok atau pedesaan juga bisa di bilang daerah perbukitan mereka sekarang sangat bersyukur karena jalan yang telah dibangun atau diperbaiki mempermudah transportasi dan komunikasi yang dahulu hanya 1 bulan sekali mereka bisa datang sekarang hanya beberapa jam atau menit mereka telah bisa mendapatkan hak akses yang tidak berbeda jauh dengan masyarakat di kota. Setidaknya, pembangunan infrastruktur yang sekarang bisa lebih baik dari pembangunan infrastruktur seperti pembangunan irigasi bagi warga desa kecamatan siblah krueng yang sangat ini masih menjadi mimpi. Coba pemerintah bayangkan, dizaman modern ini pantaskah masyarakat menanam padi harus menunggu musim hujan, apa dikata orang dengan Visit Bireuen 2018, apalagi apabila pelancong masih melihat sawah yang kebanyakan di desa – desa dekat perbukitan di Kabupaten Bireuen masih bercocok tanam dengan menunggu musim penghujan.
Pemerintah wajib tahu bahwa uang berasal dari desa ke kota bukannya dari kota ke desa disebabkan karena komoditi berasal dari desa dan terjadinya transaksi ekonomi dikota juga karena komoditi dari desa.  Maka pemerintah wajib mengerti dan memahami apa keinginan masyarakatnya sendiri dan bisa dikatakan dalam bidang infrastruktur yang lain pemerintah Kabupaten Bireuen sudah cukup membanggakan dan bidamg wisata cukup mengalami peningkatan dari yang dahulu pantai masih belum terawat sekarang telah menjadi ramai dikunjungi seperti Pantai Jangka dan membanggakan bahwa kecamatan jangka akan menjadi kota minopolitan dan semoga yang ini bisa dan benar-benar akan terwujud dan membanggakan masyarakat Bireuen khususnya bagi warga jangka itu sendiri.
Pembangunan Pendidikan
Di Kabupaten  Bireuen pembangunan pendidikan sudah merata karena pemerintah juga mewajibkan belajar itu 12 tahun dan sudah menggratiskan dari sekolah dasar hingga ke sekolah menengah ke atas. Tetapi sayangnya banyak anak – anak sekarang kebanyakan tidak bersekolah, disebabkan oleh kurangnya ekonomi dari masyarakat menengah ke bawah terutama untuk biaya perlengkapan dan peralatan sekolah, bahkan banyak anak – anak sekarang yang menjadi seorang pengemis, maka itu yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah sekarang. Dan apakah pemerintah mau kota Bireuen yang dulunya dijuluki kota pendidikan berubah namanya menjadi kota pengemis???
Untuk itu pemerintah wajib menegerti keadaan dan seperti dikatakan dalam  Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.  Pilihan kata dalam klausul ayat tersebut ternyata dapat memunculkan  makna yang berbeda-beda. Jumlah gelandangan, pengemis, pengamen, dan anak jalanan yang terus bertambah di banyak kota besar khususnya di Kabupaten Bireuen. Maka dari itu wajib bagi pemerintah untuk menekan harga peralatan dan perlengkapan sekolah dan juga menjaga para pengemis atau fakir miskin di panti jompo supaya mereka betah dan tidak mencoba kabur dari tempat tersebut. Mungkin penyebab mereka tidak merasa nyaman tinggal disana karena kurang perdulinya panitia. Apabila mereka juga dididik dengan benar dan baik mugkin bisa membuat kota Bireuen kita ini menjadi kota pendidikan yang dulu pernah melekat dengan kita.
Pembangunan Kesehatan
            Kalau kita berbicara dengan kesehatan di Kabupaten Bireuen itu cukup banyak nilai minusnya daripada plusnya, penyebabnya tidak lain tidak bukan karena peralatan di rumah sakit Bireun masih sangat jauh yang kita harapkan dan juga pelayanannya masih sangat dibeda-bedakan antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya.
            Berbicara tentang kurangnya peralatan bisa kita lihat ketika pasien yang mengalami sakit parah maka mereka harus merujuk ke rumah sakit yang lebih bagus seperti ke Banda Aceh, coba dipikirkan diperjalan saking kelamaan menunngu bisa membuat pasien bisa jadi hanya parah menjadi sangat parah dan membuat rumah sakit tersebut menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Pemerintah pun berdampak negatifnya karena dicap gagal dalam pembagunan kesehatan, apakah pemerintah mau hal tersebut terus-terusan teradi. Dalam hal perlakuan pasien rumah sakit Kabupaten Bireuen juga sangat tidak layak digunakan contohnya kalau bukan petugas yang berjaga petugas lain tidak mau menolong ini kejadian pernah saya alami dan sangat merusak citra kesehatan di Kabupaten Bireuen dimata masyarakat itu sendiri.
Pembangunan Keagamaan
            Dalam segi pembangunan keagamaan di Kabupaten Bireuen ini cukup bisa dikatakan sangat bagus dan juga kurang, dalam segi bagusnya bisa kita lihat dari pembagunan masjid-mesjid,menasah dan tempat pengajian yang telah direnovasi dengan indah.
Akan tetapi saking indahnya remaja-remaja di Kabupaten Bireuen pergi ke masjid bukan untuk beribadah tetapi mereka malah hanya tumpang lewat saja. Walaupun keagamaan di Kabupaten Bireuen ini sangat ditekankan tetapi sayangnya remaja-remaja di Kabupaten Bireuen lebih suka dengan pergaulan yang bebas bukannya pergi ked ayah yang seharusnya seusia mereka lebih baik menuntut ilmu agama supaya berguna untuk masa depan mereka.
            Ada juga majelis ta’lim khusus untuk orang dewasa yang hampir setiap masjid besar di Kabupaten Bireuen dan juga menasah-menasah di hampir semua desa di Kabupaten Bireuen. Akan tetapi sayangnya orang pergi ke masjid ataupun menasah jauh yang bisa diharapkan mereka lebih suka nongkrong di warung kopi sambil nonton bola daripada pergi ke majelis ta’lim untuk bekal mereka ke akhirat nanti.
            Membahas pembangunan keagamaan tidak lupa juga dengan para gadis,wanita bahkan ibu-ibu yang mereka menggunakan pakaian mereka yang sakit melanggar norma-norma dan qanun yang berlaku di Kabupaten Bireuen ini. Walaupun ada satpol pp telah juga melakukan razia , akan tetapi mereka tidak pernah jera untuk mengulangi perbuatan mereka.
Apakah masalah pembangunan sudah teratasi khususnya di Kabupaten Bireuen???
            Jawabannya jelas tidakkan, masih banyak yang harus dibenah khususnya pembangunan irigasi ada juga pembelian peralatan medis bagi rumah sakit ditambah pemerintah wajib merawat kaum dhuafa dan anak-anak terlentar supaya mereka tidak mengemis termasuk tawuran harus bisa dihilangkan dari pelajar di Kabupaten Bireuen supaya mereka bisa berguna untuk nusa dan bangsa umumnya dan khususnya untuk Kabupaten Bireuen.
            Menyinggung uang daerah untuk Aceh apakah penjelasan yang diberikan tadi tidak cukup untuk pemerintah supaya uang tersebut bisa diserap dan berguna dan tidak harus dikembalikan dan contohlah daerah-daerah yang yang mempergunakannya dengan baik. Apakah pemerintah lupa masih banyak yang harus dibangun. Apabila pemerintah juga tidak bisa memakainnya, apa guna para staff sekolah tinggi tapi itu saja tidak bisa mereka fikirkan.

            Satu lagi bahwa kebanyakan pemerintah bukan memikirkan untuk kemajuan bangsa tapi untuk dirinya sendiri dan untuk karabatnya serta kebanyakan orang-orang pemerintahan bukan orang intelektual yang ide-idenya untuk negeri tapi orang-orang bermulut besar dengan janji dan pemikirannya seperti anak-anak kecil yang hanya memikirkan kepentingan sendiri tanpa harus tahu jalan yang ditempuh untuk kepentingannya.

Tuesday, 22 September 2015

Makalah : Teori Konsumsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pengeluaran konsumsi masyarakat adalah salah satu variabel makro ekonomi yang dilambangkan “C”. Konsep konsumsi yang merupakan konsep yang di Indonesiakan dalam bahasa Inggris “Consumption”, merupakan pembelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga ke atas barang-barang akhir dan jasa-jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang-orang yang melakukan pembelanjaan tersebut atau juga pendapatan yang dibelanjakan. Bagian pendapatan yang tidak dibelanjakan disebut tabungan, dilambangkan dengan huruf “S” inisial dari kata saving. Apabila pengeluaran-pengeluaran konsumsi semua orang dalam suatu negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah pengeluaran konsumsi masyarakat negara yang bersangkutan. (Dumairy, 1996: 114).
Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang di produksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi. Kegiatan produksi ada karena ada yang mengkonsumsi, kegiatan konsumsi ada karena ada yang memproduksi, dan kegiatan produksi muncul karena ada gap atau jarak antara konsumsi dan produksi. Prinsip dasar konsumsi adalah “saya akan mengkonsumsi apa saja dan jumlah beberapapun sepanjang: anggaran saya memadai dan saya memperoleh kepuasan maksimum“.
Banyak alasan yang menyebabkan analisis makro ekonomi perlu memperhatikan tentang konsumsi rumah tangga secara mendalam. Alasan pertama, konsumsi rumah tangga memberikan pemasukan kepada pendapatan nasional. Di kebanyakaan negara pengeluaran konsumsi sekitar 60-75 persen dari pendapatan nasional. Alasan yang kedua, konsumsi rumah tangga mempunyai dampak dalam menentukan fluktuasi kegiataan ekonomi dari satu waktu ke waktu lainnya. Konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya. (Sukirno, 2003 : 338). Semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin besar pula pengeluaran konsumsi. Perbandingan besarnya pengeluaran konsumsi terhadap tambahan pendapatan adalah hasrat marjinal untuk berkonsumsi (Marginal Propensity to Consume, MPC). Sedangkan besarnya tambahan pendapatan dinamakan hasrat marjinal untuk menabung (Marginal to Save, MPS).

 Pada pengeluaran konsumsi rumah tangga terdapat konsumsi minimum bagi rumah tangga tersebut, yaitu besarnya pengeluaran konsumsi yang harus dilakukan, walaupun tidak ada pendapatan. Pengeluaran konsumsi rumah tangga ini disebut pengeluaran konsumsi otonom (outonomous consumtion).
Pertumbuhan ekonomi saat ini bertumpu pada konsumsi karena peranan sektor investasi dan ekspor mendorong pertumbuhan ekonomi. Bertitik tolak pada latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, maka penyusun akan meneliti dan menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi masyarakat di Indonesia. Demikian latar belakang yang bisa kami sajikan selanjutnya kami akan membahas secara rinci dalam pembahasan.

1.2.Rumusan Masalah
1.         Apa konsumsi dan fungsi konsumsi itu?
2.         Apa Yang Menjadi Variabel Lain Yang Mempengaruhi Pengeluaran Konsumsi ?
3.         Apa Yang Menjadi Prinsip Konsumsi ?
4.         Bagaimana Teori Konsumsi Dalam Perbaikan Ekonomi ?

1.3.Tujuan
Tujuan dibuantnya makalah ini ialah untuk:
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan teori konsumsi.
2.      Mengetahui apa saja yang menjadi prinsp-prinsip konsumsi.
3.      Mengetahui  apa yang mempengaruhi konsumsi tersebut.
4.      Mengetahui bagaimana teori konsumsi dalam perbaikan ekonomi.
5.      Diajukan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi Makro.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Konsumsi dan Fungsi Konsumsi
Konsep konsumsi, yang merupakan konsep yang di Indonesiakan dari bahasa inggris ”Consumtion”. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barangbarang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Teori Konsumsi adalah teori   yang mempelajari bagaimana manusia / konsumen itu memuaskan kebutuhannya dengan pembelian / penggunaan barang dan jasa. Sedangkan pelaku konsumen adalah bagaimana ia memutuskan berapa jumlah barang dan jasa yang akan dibeli dalam berbagai situasi.
Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang di produksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.
Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut. Fungsi konsumsi dapat dinyatakan dalam persamaan : i. Fungsi konsumsi ialah : C = a + By. Dimana a adalah konsumsi rumah tangga ketika pendapatan nasional adalah 0, b adalah kecondongan konsumsi marginal, C adalah tingkat konsumsi dan Y adalah tingkat pendapatan nasional.
Ada dua konsep untuk mengetahui sifat hubungan antara pendapatan disposebel dengan konsumsi dan pendapatan diposebel dengan tabungan yaitu kosep kecondongan mengkonsumsi dan kecondongan menabung. Kecondongan mengkonsumsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu kecondongan mengkonsumsi marginal dan kecondongan mengkonsumsi ratarata. Kencondongan mengkonsumsi marginal dapat dinyatakan sebagai MPC (berasal dari istilah inggrisnya Marginal Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan konsumsi (ΔC) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel (ΔYd) yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan menggunakan formula : MPC = Yd . CΔ
Kencondongan mengkonsumsi rata-rata dinyatakan dengan APC (Average Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tingkat pengeluaran konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel pada ketika konsumen tersebut dilakukan (Yd). Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan formula : APC =Yd.C
Kecondongan menabung dapat dibedakan menjadi dua yaitu kencondongan menabung marginal dan kecondongan menabung rata-rata. Kecondongan menabung marginal dinyatakan dengan MPS (Marginal Propensity to Save) adalah perbandingan di antara pertambahan tabungan (ΔS) dengan pertambahan pendapatan disposebel (ΔYd). Nilai MPS dapat dihitung dengan menggunakan formula : MPS = Yd.SΔ.
Kecondongan menabung rata-rata dinyatakan dengan APS (Average Propensity to Save), menunjukan perbandingan di antara tabungan (S) dengan pendapatan disposebel (Yd). Nilai APS dapat dihitung dengan menggunakan formula : APS = YdS.

2.1.1.Teori Konsumsi John Maynard Keynes
Dalam teorinya Keynes mengandalkan analisis statistik, dan juga membuat dugaan-dugaan tentang konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi casual. Pertama dan terpenting Keynes menduga bahwa, kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi marginal adalah krusial bagi rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kibijakan fiskal, untuk mempengaruhi perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari umpan balik antara pendapatan dan konsumsi.
Kedua, Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (avarage prospensity to consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan, sehingga ia barharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin.
Ketiga, keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting.
Keynes menyatakan bahwa pengaruh tingkat bungaterhadap konsumsi hanya sebatas teori. Kesimpulannya bahwa pengaruh jangka pendek dari tingkat bunga terhadap pengeluaran individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak penting.
Berdasarkan tiga dugaan ini,fungsi konsumsi keynes sering ditulis sebagai C = C + cY, C > 0, 0 < c < 1
Keterangan :
C = konsumsi                                                        C = konstanta
Y = pendapatan disposebel                                    c = kecenderungan mengkonsumsi marginal
Secara singkat di bawah ini beberapa catatan mengenai fungsi konsumsi Keynes :
a.       Variabel nyata adalah bahwa fungsi konsumsi Keynes menunjukkan hubungan antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya dinyatakan dengan menggunakan tingkat harga konstan.
b.      Pendapatan yang terjadi disebutkan bahwa pendapatan nasional yang menentukan besar kecilnya pengeluaran konsumsi adalah pendapatan nasional yang terjadi atau current national income.
c.       Pendapatan absolute disebutkan bahwa fungsi konsumsi Keynes variabel pendapatan nasionalnya perlu diinterpretasikan sebagai pendapatan nasional absolut, yang dapat dilawankan dengan pendapatan relatif, pendapatan permanen dan sebagainya.
d.      Bentuk fungsi konsumsi menggunakan fungsi konsumsi dengan bentuk garis lurus. Keynes berpendapat bahwa fungsi konsumsi berbentuk lengkung. (Soediyono Reksoprayitno, 2000: 146 ).

2.1.2.Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton Friedman)
Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh M Friedman. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pengertian dari pendapatan permanen adalah :
a.       Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah.
b.      Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (yang menciptakan kekayaan). Pengertian pendapatan sementara adalah pendapatan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.
Friedman menganggap pula bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan sementara dengan pendapatan permanen, juga antara konsumsi sementara dengan konsumsi permanen, maupun konsumsi sementara dengan pendapatan sementara. Sehingga MPC dari pendapatan sementara sama dengan nol yang berarti bila konsumen menerima pendapatan sementara yang positif maka tidak akan mempengaruhi konsumsi. Demikian pula bila konsumen menerima pendapatan sementara yang negatif maka tidak akan mengurangi konsumsi.



2.1.3.Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup
Teori dengan hipotesis siklus hidup dikemukaan oleh Franco Modigliani. Franco Modigliani menerangkan bahwa pola pengeluaran konsumsi masyarakat mendasarkan kepada kenyataan bahwa pola penerimaan dan pola pengeluaran konsumsi seseorang pada umumnya dipengaruhi oleh masa dalam siklus hidupnya.
Karena orang cenderung menerima penghasilan / pendapatan yang rendah pada usia muda, tinggi pada usia menengah dan rendah pada usia tua, maka rasio tabungan akan berfluktuasi sejalan dengan perkembangan umur mereka yaitu orang muda akan mempunyai tabungan negatif (dissaving), orang berumur menengah menabung dan membayar kembali pinjaman pada masa muda mereka, dan orang usia tua akan mengambil tabungan yang dibuatnya di masa usia menengah.
Selanjutnya Modigliani menganggap penting peranan kekayaan (assets) sebagai penentu tingkah laku konsumsi. Konsumsi akan meningkat apabila terjadi kenaikan nilai kekayaan seperti karena adanya inflasi maka nilai rumah dan tanah meningkat, karena adanya kenaikan harga surat-surat berharga, atau karena peningkatan dalam jumlah uang beredar. Sesungguhnya dalam kenyataan orang menumpuk kekayaan sepanjang hidup mereka, dan tidak hanya orang yang sudah pension saja. Apabila terjadi kenaikan dalam nilai kekayaan, maka konsumsi akan meningkat atau dapat dipertahankan lebih lama. Akhirnya hipotesis siklus kehidupan  ini akan berarti menekan hasrat konsumsi, menekan koefisien pengganda, dan melindungi perekonomian dari perubahan-perubahan yang tidak diharapkan, seperti perubahan dalam investasi, ekspor, maupun pengeluaran-pengeluaran lain.

2.1.4.Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif
James Dusenberry mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya. Pendapatan berkurang, konsumen tidak akan banyak mengurangi pengeluaran untuk konsumsi. Untuk mempertahankan tingkat konsumsi yang tinggi, terpaksa mengurangi besarnya saving. Apabila pendapatan bertambah maka konsumsi mereka juga akan betambah, tetapi brtambahnya tidak terlalu besar. Sedangkan saving akan bertambah besar dengan pesatnya. Kenyataan ini terus kita jumpai sampai tingkat pendapatan tertinggi yang telah kita capai tercapai kembali.

Sesudah puncak dari pendapatan sebelumnya telah dilalui, maka tambahan pendapatan akan banyak menyebabkan bertambahnya pengeluaran untuk konsumsi, sedangkan di lain pihak bertambahnya saving tidak begitu cepat. Dalam teorinya, Dusenberry menggunakan dua asumsi yaitu:
a.    Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang sekitarnya.
b.    Pengeluaran konsumsi adalah irreversibel. Artinya pola pengeluaran seseorang pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan.

2.2.Beberapa variabel lain yang mempengaruhi Pengeluaran Konsumsi
Perkembangan ekonomi yang terjadi mengakibatkan bertambahnya variabel yang dapat mempengaruhi pengeluaran konsumsi selain pendapatan nasional, inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar seperti sebagai berikut:
1.    Selera
Di antara orang-orang yang berumur sama dan berpendapatan sama, beberapa orang dari mereka mengkonsumsi lebih banyak dari pada yang lain. Hal ini dikarenakan ada nyaperbedaan sikap dalam penghematan (thrift).
2.    Faktor sosial ekonomi
Faktor sosial ekonomi misalnya: umur, pendidikan, pekerjaan dan keadaan keluarga. Biasanya pendapatan akan tinggi pada kelompok umur muda dan terus meninggi dan mencapai puncaknya pada umur pertengahan, dan akhirnya turun pada kelompok tua.
Demikian juga dengan pendapatan yang ia sisihkan (tabung) pada kelompok umur tua adalah rendah. Yang berarti bagian pendapatan yang dikonsumsi relatif tinggi pada kelompok muda dan tua, tetapi rendah pada umur pertengahan. Dengan adanya perbedaan proporsi pendapatan untuk konsumsi diantara kelompok umur, maka naiknya umur rata-rata penduduk akan mengubah fungsi konsumsi agregat.
3.    Kekayaan
Kekayaan secara eksplisit maupun implisit, sering dimasukan dalam fungsi konsumsi agregat sebagai faktor yang menentukan konsumsi. Seperti dalam hipotesis pendapatan permanen yang dikemukakan oleh Friedman, Albert Ando dan Franco Modigliani menyatakan bahwa hasil bersih (net worth) dari suatu kekayaan merupakan faktor penting dalam menentukan konsumsi.
4.    Keuntungan / Kerugian Capital
Keuntungan kapital yaitu dengan naiknya hasil bersih dari kapital akan mendorong tambahnya konsumsi, sebaliknya dengan adanya kerugian kapital akan mengurangi konsumsi. Menurut John J. Arena menemukan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi agregat dan keuntungan kapital karena sebagian saham dipegang oleh orang-orang yang berpendapatan tinggi dan konsumsi mereka tidak terpengaruh oleh perubahan perubahan jangka pendek dalam harga surat berharga tersebut. Sebaliknya Kul B. Bhatia dan Barry Bosworth menemukan hubungan yang positif antara konsumsi dengan keuntungan kapital.
5.    Tingkat harga
Naiknya pendapatan nominal yang disertai dengan naiknya tingkat harga dengan proporsi yang sama tidak akan mengubah konsumsi riil. Bila seseorang tidak mengubah konsumsi riilnya walaupun ada kenaikan pendapatan nominal dan tingkat harga secara proposional, maka ia dinamakan bebas dari ilusi uang (money illusion) seperti halnya pendapat ekonomi kasik. Sebaliknya bila mereka mengubah konsumsi riilnya maka dikatakan mengalami “ilusi uang” seperti yang dikemukakan Keynes.
6.    Barang tahan lama
Barang tahan lama adalah barang yang dapat dinikmati sampai pada masa yang akan datang (biasanya lebih dari satu tahun). Adanya barang tahan lama ini menyebabkan timbulnya fluktuasi pengeluaran konsumsi. Seseorang yang memiliki banyak barang tahan lama, seperti lemari es, perabotan, mobil, sepeda motor, tidak membelinya lagi dalam waktu dekat. Akibatnya pengeluaran konsumsi untuk jenis barang seperti ini cenderung menurun pada masa (tahun) yang akan datang. Pengeluaran konsumsi untuk jenis barang ini menjadi berfluktuasi sepanjang waktu, sehingga pada periode tersebut pengeluaran konsumsi secara keseluruhan juga berfluktuasi.
7.    Kredit
Kredit yang diberikan oleh sektor perbankan sangat erat hubungannya dengan pengeluaran konsumsi yang dilakukan rumah tangga. Adanya kredit menyebabkan rumah tangga dapat membeli barang pada waktu sekarang dan pembayarannya dilakukan di kemudian hari. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa adanya fasilitas kredit menyebabkan rumah tangga akan melakukan konsumsi yang lebih banyak,karena apa yang mereka beli sekarang harus dibayar dengan penghasilan yang akan datang. Konsumen akan memperhitungkan beberapa hal dalam melakukan pembayaran dengan cara kredit, misalnya tingkat bunga, uang muka dan waktu pelunasannya.
Tingkat bunga tidak merupakan faktor dominan dalam memutuskan pembelian dengan cara kredit, sebagaimana faktor-faktor yang lain seperti uang muka dan waktu pelunasan. Kenaikan uang muka akan menurunkan jumlah uang yang hurus dibayar secara kredit. Sedangkan semakin panjang waktu pelunasan akan meningkatkan jumlah uang yang harus dibayardengan kredit. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak adanya kejelasan mengenai pengaruh kredit terhadap pengeluaran konsumsi.

2.3.Prinsip Teori Konsumsi
1.    Barang (goods) yang di konsumsi mempunyai sifat semakin banyak akan semakin besar manfaatnya. Dengan demikian, jika sesuatu yang bila dikonsumsi semakin banyak justru mengurangi kenikmatan hidup (bad) tidak dapat didefinisikan sebagai barang, misalnya penyakit.
2.    Utilitas (utility) adalah manfaat yang diperoleh seseorang karena ia mengkonsumsi barang, Dengan demikian Utilitas merupakan ukuran manfaat (kepuasan) bg seseorang karena mengkonsumsi barang. Keseluruhan manfaat yang diperoleh konsumen karena mengkonsumsi sejumlah barang disebut dengan Utilitas total (Total Utility) Utilitas marjinal (marginal utility) adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah satu unit konsumsi barang tertentu.
3.    Pada teori Utilitas berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of Diminishing marginal utility) yaitu bahwa awalnya sesorang konsumen mengkonsumsi satu unit barang tertentu akan memperoleh atambahan Utilitas (manfaat) yang besar, akan tetapi tambahan unit konsumsi barang tersebut akan memberikan tambahan Utilitas (manfaat yang semakin menurun, dan bahkan dapat memberikan manfaat negatif. Dengan kata lain, Utilitas marjinal (MU) mula-mula adalah besar, dan semakin menurun dengan meningkatnya unit barang yang dikonsumsi.
4.    Pada teori Utilitas berlaku konsistensi preferensi, yaitu bahwa konsumen dapat secara tuntas (complete) menentukan rangking dan ordering pilihan (preference, choice) diantara berbagai paket barang yang tersedia. Konsep ini disebut dengan Transitivity dan rasionalitas. Misalnya, jika A lebih disuka dari B atau A>B, dan B lebih disukai dari C atau B>C, maka harus berlaku A lebih disuka dari C, atau A>C.
5.    Pada teori Utilitas diasumsikan bahwa konsumen mempunyai pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka dianggap (diasumsikan) mengetahui persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dsb.

2.4.Teori Konsumsi dalam Perbaikan Ekonomi
Teori konsumsi dan tingkat perbaikan ekonomi. 2 hal ini sempat dikemukan oleh presiden SBY saat krisis ekonomi sempat hinggap dan terus hinggap sehinga menjadi masalah tersendiri bagi perekonomian Indonesia bangsa Indonesia secara keseluruhan.Tingkat konsumsi seperti apa ? Waktu itu Presiden SBY memalui pemerintahannya sempat megajukan usulan peningkatkan aktivitas konsumsi dalam ngeri untuk memulihkan perekonomian, secara tidak langsung industri ekonomi dalam negri akan tumbuh dengan baik.
Konsumsi seperti apa ? pertanyaan yang terus berulang, banyak pihak yang mengatakan bahwa daya beli masyarakat Indonesia rendah. Kalau begitu apa ukurannya ? di sektor mana saja ? Sebuah jawaban yang belum saya ketahui. Tapi sekarang mari kita lihat apakah sebenarnya daya beli mayarakat Indonesia rendah .
Pernyataan daya beli masyarakat Indonesia sebenarnya tidak lah rendah jika hal ini dihitung dari kebutuhan sekunder.Yang masih membinggungkan sekarang ini ialah masyarakt Indonesia sepertinya tidak lagi bisa membedakan yang mana kebutuhan primer atau kebutuhan sekunder ,sebuah teori mengatakan
Lihat saja sekarang hampir dari satu setengah populasi penduduk Indonesia sudah punya mobile communication atau bahasa sederhananya adalah handphone atau sim card proveider telepon selular”.
Handphone atau pun sim card bukalah barang mahal lagi yang siap dikonsumsi ,meskipun harganya bisa mencapai jutaan tidak dipermasalahkan. Sedangkan kebutuhan primer berupa pangan,sandang dan papan menjadi sesuatu yang terpinggirkan. Jika ditanya di kalangan menengah ke atas jelas jawabnnya mereka bisa berimbang. Tapi kelas menengah ke bawah jawabannya bisa mendua .Kenapa mendua ? karena barang sekunder seperti telepon selular juga sudah menjadi kebutuhan wajib buat mereka. Harga yang biasnya diterapkan oleh perusahaan telepon dan perusahaan provider memudahkan konsumen untuk memilih handphone atau sim card yang mereka inginkan. Masalah pulsa jelas yang ke dua .Sedangkan tariff yang berlomba-lomba masih diperangkan tetap menjadi acuan konsumen. Konsumen menjadi konsumtif sekarang rendahkah daya beli konsumen.
jika kembali ke bagaimana teori konsumsi dan kebutuhan tersebut,jika saja semua orang Indonesia sadar dan bisa memilih menyelamatkan ekonomi Indonesia terlebih dahulu baru ekonomi perusahaannya dan ekonomi diri-nya atau apa apun itu saya yakin sebuah debat narsis tidak akan terjadi.

BAB III
PENUTUP
3.1.Simpulan
Teori Konsumsi adalah teori  yang mempelajari bagaimana manusia / konsumen itu memuaskan kebutuhannya dengan pembelian / penggunaan barang dan jasa. Sedangkan pelaku konsumen adalah bagaimana ia memutuskan berapa jumlah barang dan jasa yang akan dibeli dalam berbagai situasi.
Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut. Fungsi konsumsi dapat dinyatakan dalam persamaan, Perkembangan ekonomi yang terjadi mengakibatkan bertambahnya variabel yang dapat mempengaruhi pengeluaran konsumsi selain pendapatan nasional, inflasi, suku bunga, dan jumlah uang beredar.

3.2.Saran
Dalam penyusunan makalah ini yang dimana kami membahas tentang “TEORI KONSUMSI”, penulis menggunakan sumber yang cukup mendasar  bagi judul makalah ini. Selain itu, bentuk pemaparan dan penjelasan makalah ini menggunakan metode pendeskripsian dan argumentasi bagi masalah-masalah yang dituangkan dalam makalah. Penggunaan gaya bahasa yang mudah dipahami membuat sebuah kajian baru dalam menyelesaikan suatu studi kasus.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan inspirasi dari para pembaca dalam hal membantu menyempurkan makalah ini. Untuk terakhir kalinya penulis berharap agar dengan hadirnya makalah ini akan memberikan sebuah perubahan khususnya dunia pendidikan.


Friday, 18 September 2015

Documents : Kewiraswastaan dan Perusahaan kecil

KEWIRASWASTAAN
1.Kewiraswastaan
(Enterpreneurship) adalah kemampuan dan kemauan seseorang untuk beresiko dengan menginvestasikan dan mempertaruhkan waktu, uang, dan usaha untuk memulai suatu perusahaan dan menjadikannya berhasil. Melalui upaya yang dijalankannya, yang bersangkutan merencanakan dan mengharapkan kompensasi dalam bentuk keuntungan di samping juga kepuasan. Bidang usaha atau perusahaan yang dibangun oleh seseorang dengan kepribadian tertentu (wiraswastawan/entrepreneur) sebagai alternative penyediaan lapangan kerja, minimal bagi si pemilik modal itu, kita sebut wiraswasta.
2.Wiraswasta
Pengertian wiraswastawan menunujuk kepada pribadi tertentu yang secara kualitatif lebih dari kebanyakan manusia pada umumnya, yaitu pribadi yang memiliki kemampuan untuk :
  1. Berdiri diatas kekuatan sendiri
  2. Mengambil keputusan untuk diri sendiri
  3.  Menetapkan tujuan atas dasar pertimbangannya sendiri
  4.  Mengambil resiko
  5.  Tegas
  6. Memperhatikan lingkungan sosial untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik bagi semua orang
3.Peranan wiraswastawan
·      Memimpin usaha secara teknis maupun ekonomis dengan berbagai aspek fungsional
·      Mencari keuntungan bisnis
·      Membawa perusahaan ke arah kemampuan
·      Memperkenalkan hasil produksi baru
·      Memperkenalkan cara produksi yang lebih maju
·      Membuka pasar
·      Merebut sumber bahan mentah maupun bahan setengah jadi
·      Melaksanakan bentuk organisasi perusahaan yang baru

4.Unsur penting wiraswasta
Dalam wiraswasta ada beberapa unsur penting yang satu sama lainnya saling terkait. Unsur-unsur tersbut adalah :
  • Unsur pengetahuan
Mencirikan tingkat penalaran yang dimiliki seseorang. Pada umumnya unsur pengetahuan banyak ditentukan oleh tingkat pendidikan orang bersangkutan.
  • Unsur keterampilan
Pada umumnya diperoleh melalui latihan dan pengalaman kerja nyata. Wiraswastawan yang dilengkapi keterampilan tinggi akan mempunyai keberhasilan yang lebih tinggi.
  • Unsur kewaspadaan
Merupakan paduan unsur pengetahuan dan sikap mental dalam menghadapi keadaan yang akan datang. Kewaspadaan berkaitan dengan pemikiran atau rencana tindakan untuk menghadapi sesuatu yang mungkin terjadi atau diduga yang akan dialami.

PERUSAHAAN KECIL DALAM LINGKUNGAN PERUSAHAAN
1.Perusahaan kecil
            Perusahaan kecil memegang peranan penting dala komunitas perusahaan swasta. Pengalaman di beberapa Negara maju (Amerika, Inggris, Jepang, dan sebagainya) menunjukka bahwa komunitas perusahaan kecil memberikan kontribusi yang perlu diperhitungkan di bidang produksi, pajak, penyedia lapangan kerja, dan lain sebagainnya. Seringkali dari perusahaan kecil muncul gagasan-gagasan baru yang merupakan terobosan penting dala kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan. Perusahaan yang sekarang ini telah besar, seperti General Elektrik, IBM, PT ASTRA International, dan lain-lain, yang pada mulanya adalah perusahaan kecil. Dengan kiat-kiat tertentu dari pelaku bisnis, perusahaan kecil dapat berkembang dengan pesat menjadi perusahaan raksasa.
2.Perkembangan franchising di Indonesia
Waralaba (franchise) sebenarnya merupakan suatu sistem bisnis yang telah lama dikenal oleh dunia, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh perusahaan mesin jahit Singer di Amerika Serikat, pada tahun l851, yang kemudian diikuti oleh General Motors Industry pada tahun l898.
Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negeri asalnya, Amerika Serikat menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS.
Sedangkan di Kerajaan Inggris (UK) berkembangnya waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada dekade 60-an. Format bisnis waralaba memang tak dapat dipungkiri eksistensinya dan digemari oleh pengusaha-pengusaha mengingat kecilnya risiko kegagalan yang mungkin timbul dalam menjalankan usaha khususnya bagi pengusaha-pengusaha pemula. Bahkan dibanyak negara, kegagalan usaha yang mempergunakan format bisnis waralaba prosentasenya tidak lebih dari satu digit.
Di Indonesia, waralaba sebagai format bisnis mulai dikenal pada awal dekade 80-an, seiring masuknya waralaba asing disektor usaha rumah makan siap saji (fast food chain restaurant) antara lain, KFC, Pioneer Take Out, Texas Church, dan lain-lainnya. Jaringan bisnis ini berkembang sangat pesat dalam waktu yang singkat, bahkan menurut data di Deperindag RI hingga tahun l997 (sebelum terjadinya Krisis Moneter) telah terdaftar lebih dari 250 perusahaan sebagai penerima waralaba (franchisee) dari suatu waralaba asing, dan tersebar di beberapa bidang usaha, antara lain;
a.    rumah makan/restoran
b.    jasa pemasaran
c.    hotel
d.   toko buku dan toko cindera mata
e.    minimarket
f.     persewaan kendaraan
g.    pusat kebugaran dan perawatan tubuh
h.    penata rambut, salon kecantikan, dll.
Di sisi lain, perusahaan lokal yang telah mengembangkan usahanya dengan mempergunakan format bisnis waralaba jumlahnya tidaklah sebanyak waralaba asing banyak atau hanya sekitar 10 persen dari jumlah waralaba asing yang ada di Indonesia. Perusahaan lokal tersebut antara lain; Es Teller 77, CFC, ILP, LIA, Lutuye Salon, Rudy Hadisuwarno, Indomaret dan lain-lainnya.
Sebagaimana diuraikankan dimuka, Waralaba sebagai format bisnis mulai di kenal di Indonesia pada awal tahun 1980, dibidang Restoran Siap Saji ( Fast Food Restaurant ), seperti KFC, Pioneer Take out. Sedangkan Franchise (waralaba) generasi pertama yang cenderung disebut lisensi memang telah lebih dahulu dikenal, antara lain seperti; Coca-cola, obat-obatan,dsb.
Perkembangan Waralaba di Indonesia, khususnya di bidang rumah makan siap saji sangat pesat. Hal ini ini dimungkinkan karena para pengusaha kita yang berkedudukan sebagai penerima waralaba ( franchisee ) diwajibkan mengembangkan bisnisnya melalui master franchise yang diterimanya dengan cara mencari atau menunjuk penerima waralaba lanjutan. Dengan mempergunakan sistem piramid atau sistem sel suatu jaringan format bisnis waralaba berekspansi.
Bahkan dari data Deperindag RI, hingga tahun 1997 telah tedaftar sekitar 250 perusahaan penerima Waralaba dimana hampir 70 persennya bergerak di bidang restoran siap saji.
Pesatnya perkembangan Waralaba daerah perkotaan di Indonesia, karena didukung oleh jumlah populasi yang tinggi dan daya beli yang baik, disamping pola makan masyarakat bisnis (middle-up) yang cenderung makan diluar rumah.
·         Berikut ini adalah definisi dari istilah – istilah tersebut berdasarkan PP No.16 Tahun 1997, yaitu;
a.Pemberi Waralaba
Adalah badan usaha atau peorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pemberi waralaba.

b.Penerima Waralaba

Adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pemberi waralaba.

c.Penerima Waralaba Utama

Adalah penerima waralaba yang melasanakan hak membuat perjanjian Waralaba Lanjutan yang di peroleh dari pemberi waralaba.
d.Penerima Waralaba Lanjutan
Adalah badan usaha atau perorangan yang menerima hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pemberi Waralaba melaui penerima waralaba utama.
e.Perjanjian Waralaba
Adalah perjanjian secara tertulis antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba.
f.Perjanjian Waralaba Lanjutan
Adalah perjanjian secara tertulis antara Penerima Waralaba Utama dengan Penerima Waralaba Lanjutan.

3.Ciri-ciri perusahaan kecil
Secara umum perusahaan kecil mengacu pada ciri-ciri berikut :
  • Manajemen berdiri sendiri.
Biasanya para manajer perusahaan adalah pemiliknya juga, dengan predikat yang disandang mereka memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. 
  • Investasi modal terbatas.
Pada umumnya modal perusahaan kecil disediakan oleh seorang pemilik atau sekelompok kecil pemilik, karena jumlah modal yang diperlukan relative kecil. 
  • Daerah operasinya lokal.
Dalam hal ini majikan dan karyawan tinggal dalam suatu lingkungan yang berdekatan dengan letak perusahaan. 
  • Ukuran secara keseluruhan relative kecil ( penyelenggara di bidang operasinya tidak dominant)
4.Keuntungan perusahaan kecil
  • Kebebasan dalam bertindak mengacu pada fleksibilitas gerak perusahaan dan kecepatannya dalam mengantisipasi perubahan tuntutan pasar. Hal ini lebih memungkinkan dalam perusahaan kecil karena ruang lingkup layanan perusahaan relative kecil, sehingga penyesuaian terhadap adopsi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pasar dapat dilaksanakan dengan cepat.
  • Penyesuaian dengan kebutuhan setempat dapat berjalan lebih baik terutama karena dekatnya perusahaan dengan masyarakat setempat, keeratan hubungan dengan pelanggan, serta fleksibilitas penyesuaian volume usaha dalam kaitannya dengan tuntutan perubahan selera pelanggan.
5.Kelemahan perusahaan kecil

Perusahaan dengan ukuran apa saja (Besar, sedang, maupun kecil) selalu mengadung resiko. Perusahaan kecil lebih mudah terpengaruh oleh perubahan situasi, kondisi ekonomi, persaingan, dan lokasi yang buruk. Kelemahan perusahaan kecil yang terutama berkaitan dengan spesialisasi, modal dan jaminan pekerjaan terhadap karyawannya.


6.Mengembangkan perusahaan kecil

Untuk mengembangkan perusahaan diperlukan pertimbangan yang matang terhadap tiga hal: profil pribadi ( dalam kaitannya dengan kelayakan kredit, referensi-referensi, perincian pengalaman perusahaan), profil perusahaan ( dalam kaitannya dengan sejarah, analisis tentang para pesaing dan pasar, startegi persaingan dan rencana opersai, rencana arus uang kontan dan analisis pulang rokok ) serta paket pinjaman ( dalam kaitannya dengan jumlah yang diminta, jenis pinjaman yang diminta, alasan pembenaran, jadwalan pembayaran kembali- dan ketentuan-ketentuan pembayaran ). Pertimbangan yang matang untuk mengembangkan perusahaan, memerlukan kejelian yang terkait erat dengan kemampuan manajemen, pemenuhan kebutuhan modal, pemilihan bentuk kepemilikan perusahaan dan strategi untuk memenangkan persaingan pasar.

7.Kegagalan perusahaan kecil

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan dalam perusahaan kecil. Sebagian penyebab kegagalan telah disebutkan seperti kurangnya pengalaman manajemen, kurangnya modal, kurangnya kemampuan dalam promosi penjualan, ketidakmampuan untuk menagih piutang yang macet, penggunaan teknologi yang sudah ketinggalan zaman, kurangnya perencanaan perusahaan, permasalahan kecakapan pribadi, kesalahan pemilihan bidang usaha, dana lain-lain.

Perbedaan  kewirausahaan dan Bisnis kecil

Banyak guru , dosen ataupun pengusaha , berpendapat bahwa kewirausahaan dan bisnis kecil itu berbeda , padahal sama sekali tidak ada perbedaan nya, kenapa?? Karena antara kewirausahaan dan bisnis kecil : 
1.      Mereka sama-sama berbisnis
2.      Pengukuran potensi bisnis sama
3.      Kapasitas dan varietas bisa dikatakan hampir sama karena membuat lapangan kerja
4.      Unsur permodalan hanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda ketika memulai dan dimulai
5.      Jiwa enterpreneur yang dimiliki sama
6.      Ujung pangkalnya adalah pengembangan potensi enterpreneur sejatinya, apakah langgeng        atau tidak    
Sumber Pustaka  : 
             b
uku pengantar bisnis perusahan, Jakarta Gramedia pustaka umum            https://sites.google.com/site/kewiraswastaan/

Makalah : Sistem Pedidikan Nasional