Saturday, 9 January 2016

Artikel : Kebinasakan Iman dan Pecahnya Islam Kedalam 73 Golongan

16 September 2015
Hakikat Iman
Hakikat iman , yang dikatakan dengan iman iyalah membenarkan perkataan Rasulullah. Hakikat iman ialah mentakdirkan dengan hati dan mengikrarkan dengan tidak jika adat dalam hatinya itu tasdik dan pada lidahnya itu ikrar orang tersebut sudah dikatakan dengan Mukmin pada bathin dan wajib atas orang tersebut diperlakukan segala hukum islam dan jika ada didalam hatinya tasdik dan tidak ada pada lidahnya ikrar maka orang itu mukmin pada bathin juga tapi tidak diberlakukan hukum islam atasnya, dan apabila tiada didalamnya hatinya tasdik dan pada lidahnya ada pada ikrar seperti kelakuan munafik maka tidak mukmin bathin  karena ketiadaan tasdik karena ada ikrar dan diperlakukan segala hukum dunia, dan tiada dihukumkan akan hafir karena tiada tanda ia sujud kepada berhala dan membuang mashaf pada tempat bernajis maka dihukumkan atasnya itu kafir dan tidak diperlakukan hukum islam atasnya. Inilah kaum yang muktamat. Hakikat iman itu murakkab bersusar, tasdik dengan hati dan ikrar dengan lidah, barang siapa ada tasdik dan tiada ikrar dengan kalimat syahadat padahala kuasa ia atas ikrar maka ia tiada mukmin pada hukum zhahir dan bathin , maka ia kekal didalamnya neraka. Inilah kaulah kedua yang masyhur pada hakikat iman. Apabila ada dalam hatinya tasdik dan ikrar dan tiada mengerjakan amal maka orang itu mukmin jua tetapi tiada sempurna dan jika dikerjakan amal maka sempurnalah imannya dan apabila ia membuang mushaf maka kafirlah ia.




9 Oktober 2015
Dan jika ada bagiannya ikara dan tasdik dan amal tetapi pekerjaannya mendustakan nabi pada taia-tiap yang datang ia dengan dia daripada agama maka jadi batallah pada syarat ikrarnya, tasdiqnya dan amalnya dengan alamat itu, tetapi jika diketahui bahwa sujudnya itu tiada membesarkan dia , tiada dihukumkan atasnya dengan kafir pada bathin hanya dihukumkan dengan kafir pada zahir, maka tiadalah diperlakukan atasnya hukum islam.
Fatas yang membinasakan iman, yang menbinasakan iman disebut raddal yang menbinasakan iman itu berbuat perbuatan yang mengkafirkan, mengatakan perkataan yang mengkafirkan, istikad kafir , bersenda –senda atau dengan tahtahah.
14 Oktober 2015
Adapun yang memutuskan islam dengan perkataan serta iqtikat seperti mengatakan dan mengiktikatkan baharu alam ini, Allah Ta’ala baharu menafika sifat Allah, mendustakan nabi atau malaikat menyembahkan keduanya dan jikalau bersenda-senda sekalipun maka barang siapa mengata dengan sesuatu daripada segala yang tersebut itu jadi kafir sama ada dikatakannya  dengan iktikat atau dengan bersenda-senda. Barang siapa mengata kalimat kufu dan sangkai ia menghendaki yang lain daripada yang dikatakan maka orang itu jadi kafir pada zahir dan bathin. Barang siapa mendustakan hati atau menyangkal satu ayat daripada segala ayat, menambahi satu kalimat dalam Al-Qur’an, meringan-ringankan nabi  atau meringan-ringankan sunah nabi maka orang itu jadi kafir. Barang siapa menghalalkan yang haram seperti zina, liwat, mencuri, atau mengharamkan yang halal seperti jual beli, nikah jadilah kafir ia. Barang siapa menafikan yang wajib seperti shalat lima waktu, puasa, zakt, dan haji dan mewajibkan yang tiada wajib seperti menambahi sembahnyang yang enam atau wajib puasa syawal maka jadi kafir ia. Barang siapa menukar Siti Aisyah dengan zina maka jadi kafir.
21 Oktober 2015
Barang siapa yang berkata kiranya Allah dna Rasul menyuruh akan daku kan berbuat taat  niscaya tiada aku perbuat taat, niscaya  tiada akau perbuat dan jikalau Rasul datang padaku niscaya tiada aku terima maka jadi kafir , dan barang siapa dijadikan Allah Ta’ala kiblat akan jahilliah tiada mau aku terhadap kepadannya maka jadi kafir, jika ada yang berkata jika jadikan Allah Ta’ala sianu itu  nabi tiada akau benarkan akan dia atau diwajibkan sembahnyang dalam hal sakit niscaya zalim Allah Ta’ala akan daku maka yaitu jadi kafir. Jika ada orang yang menganiaya mengaku jika perbuatannya bukan takdir  Allah Ta’ala jadi kafir ia. Jika naik saksi nabi dan malaikat niscaya tiada aku terima saksinya maka jadi kafir. Jika ada yang berkata tiada aku tahu siapa nabi itu , manusia atau jinkah dan berkata pula nabi itu adalah jin dan tiada tau apa itu iman padahal dihina akan iman mka jadi kafir ia. Barang siapa menurunkan derajat Rasul karena menghinakan dia dan mentasgirkan nama Allah Ta’ala maka jadi kafir ia. barang siapa mengatakan Lahaulawalakuataillabillah itu tiada mengenyahkan daripada lapar, niscaya jadi kafir ia.
30 Oktober 2015
Membinasakan iman:
1.    Barang siapa ada yang tiada mengakui orang yang bukan beragama islam itu kafir niscaya jadi kafir ia.
2.    Barang siapa menyesalkan umat Nabi Muhammad SAW atau mengkafirkan segala sahabat nabi jadi kafir ia.
3.    Menafikan Al-Qu’an melemahkan kafir atau menafikan Mekkah dan berkata tiada aku tahu akan Mekkah itu dan menafikan tujuh langit dan bumi dan menunjukkan keadaan Allah Ta’ala maka orang itu jadi kafir.
4.    Barang siapa ingkar akan hari kebangkitan maka jadi kafir ia.
5.    Syarat jika tiada mengetahui makna yang dikatakan itu maka tiada jadi kafir ia.
6.    Jika ada yang mengatakan sesama islam semoga ditinggalkan Allah Ta’ala akan imanmu maka jadi kafir ia.
7.    Tiada jadi kafir orang masuk ke negeri kafir.
8.    Jika menghalalkan minum arak dan makan daging babi jadi kafir ia.
9.    Jika ada yang menyerupai orang zalim dengan Malik Zabaniah atau menyerupai orang jahat dengan Mungkar dan Nakir jadi kafir ia.
28 November 2015
Membinasakan iman:
1.    Mengucap Bismillah ketika minum arak dan berzina.
2.    Mengucap tiadak takut dengan hari kiamat.
3.    Pekerjaan lebih penting dari ilmu.
4.    Orang yang mempertaruhkan hartanya kepada Allah dan pencuri.
5.    Mengatakan ingin mati.
6.    Tidak bisa merima takdir karena anaknya diambil.
7.    Lebih baik orang yahudi daripada islam dalam pembayaran gaji.
8.    Untuk mendapatkan zakat oarang islam rela masuk kafir dan masuk lagi islam.
9.    Mendustakan sahabat nabi Abu Bakar berkata tidak benar.
10.              Menuduh orang kafir dan menjawab iya.
11.              Berkata iya jika ada yang memanggil kafir.
12.              mengatakan rasul bisa dibeli.
13.              Pangkat rasul bisa dibeli.
14.              Berkata dia merima wahyu dari Allah.
15.              Berkata ia masuk kedalam surga.
4 November 2015
Membinasakan iman:
1.    Jika ada yang melebihkan Wali daripada Nabi maka jadi kafir.
2.    Sifat Allah Ta’ala apabila masuk kedalam tubuh manusia gugur huku-hukum yang wajib, jadi kafir ia.
3.    Mengatakan nyawa manusia itu cahaya Allah Ta’ala.
4.    Sifat manusia dekat dengan sifat Allah Ta’ala.
5.    Martabat yang suci tiada diperhamba oleh nafsu tiada jadi kafir.
6.    Allah mengilhamkan keada pekerjaan agama tiada memerlukan ilmu jadi bidiah dia.
7.    Aku melihat kamu seperti Allah melihat yahudi kepadamu jadi bidiah fasek.
8.    Mencita-citakan jangan haram menzina, membunuh dan aniaya maka jadi kafir ia.
10 November 2015
Golongan Rafiziah terbagi atas 12 golongan, inilah beberapa pendapatnya :
1.    Golongan Rafiziah beriktikat bahwa Saidina Ali turun dari langit melalui celah-celah awan lalu masuk kedalam rupa manusia maka iktikat ini kafir
2.    Golongan ini beriktikat Saidina Ali adalah nabi Allah dan malaikat Jibril membawa wahyu kepada Nabi Muhammad itu salah, iktikat ini kafir.
3.    Golongan ini beriktikat bahwa Ali bersyarikat dengan Nabi Muhammad pada pangkat kenabian, iktikat ini kafir.
4.    Golongan ini beriktikaat kahlifah hanya Ali tidak ada selain Ali dan mereka berkata Abu Bakar, Umar, jadi kafir menerima hadiah khalifah.
5.    Golongan ini beriktikat apabila roh keluar daripada suatu badan maka masuk kepada lembaga lain, iktikat ini kafir.
6.    Golongan ini beriktikat Ali akan turun kembali kedunia hampir hari kiamat untuk melawan dajjal dan sekarang tempatnya diawan dan suara gemuruh dan kilat itu suara hatinya, iktikat itu kafir.
7.    Golongan ini beriktikat Allah Ta’ala terkadang-kadang dalam rupa manusia dan dinamai akan dia Nabi dna Iman maka sesatlah segala mahkluk.
18 Npvember 2015
Pendapat kaum Khairijiah tentang keimanan :
1.    Beriktikat bahwa yang menjadikan kebajikan Allah Ta’ala yang menjadikan kejahatan hamba dan kafirlah yang melakukan dosa besar, iktikat ini kafir.
2.    Beriktikat bahwa memberi zakat itu tiada fadhu dna tiada harus memberi zakat kepada siapa pun karean tiada ketahui kafir dari mukmin, iktikat ini kafir.
3.    Beriktikat bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa syirik, iktikat ini kafir.
4.    Beriktikat bahwa beriman dengan yang gaib itu batil, iktikat ini kafir.
5.    Beriktikat bahwa Allah Ta’ala tiada menghukumkan segala mahkluk dengan suatu hukum, iktikat ini kafir.
6.    Berikrikat bahwa matahari, bulan dan bintang bukan mahkluk Allah Ta’ala, iktikat ini kafir.
25 November 2015
Jika mereka melakukan maksiat mereka mengangap semua itu karena Allah. Kejahatan itu dikembalikan kepada Allah. Mereka mengingkari ayat Al-Qur’an dan hukum ditiadakan. Mereka menyakini perbuatan baik itu tiada pahalanya begitu sebaliknya. Menyalahi ayat-ayat Al=Qur’an. Tafakur lebih baik daripada iabda 70 tahun. Orang yang menyucikan diri daripada perbuatan hawa nafsu tapi shalat ia tiada lagi maka orang itu kafir.


2 Desember 2015
Pendapat kaum Jabbariah :
Ø Setiap mahkluk akan mendapat pahala jika berbuat kebajikan dan tiada berdosa apabila berbuat kejahatan.
Ø Bahwa Alaah tiada menyiksa hambanya.
Ø Allah menghidupkan kafir didalam neraka kemudian mematikannya dan menghidupkan lagi.
Ø Ketika Allah menjadikan sesuatu atau telah menjadikan Allah Ta’ala perlu istirahat.
Ø Mengiktikatkan setiap bisikan didalam hati itu adalah wahyu dari Allah.
Ø Apabila hamba sampai pada martabat suci hilanglah segala hukum syarat atasnya.
Ø Segala harta dunia itu milik bersama.
Ø Orang yang belajar ilmu itu jadi syirik.
Ø Tiada sesuatu pun yang difarzukan Allah Ta’ala kepada manusia.
Ø Bahwa hamba tiada mukallaf lain dari iman dan kafir.
Ø Syek ia akan imannya apakah dengan bersyahadat akan menghilangkan kekafirannya atau tidak.

1.    Pengertian :
a.       Kaum Rafiziah     : Orang yang melenceng dari Al-Qur’an dan Hadis dan lebih   memuliakan Ali daripada Nabi Muhammad SAW.
b.      Kaum Kharijiah   : Kaum yang semula mencintai Saidina Ali lalu keluar memisahkan diri dari Ali.
c.       Kaum Jabbariyah            : Kaum ini berpendirian bahwa manusia ini terpaksa tidak mempunyai kemauan dan kuasa.
d.      Kaum Qadariah   : Kaum ini berpendapat bahwa manusia ini mempunyai kuasa dalam segala perbuatannya.
e.       Kaum Jahimiah    : Kaum ini berpendapat Zat Allah sama dengan Mahkluk.
f.       Kaum Murjiah     : Golongan ini tidak mempercayai bahwa ada balasan dari setiap perbuatan.

2.    Perbedaan Masing-Masing Pendapat :
A
Ø  Rafiziah                 : Saidina Ali yang sebenarnya Rasul bukan Nabi Muhammad SAW.
Ø  Aswaja                   : Yang sebenarnya Rasul adalah Nabi Muhammad SAW.
B
Ø  Khairijiah              : Tidak wajib memberi zakat.
Ø  Aswaja                   : Wajib atas tiap muslim memberi zakat.
C
Ø  Jabbariyah            : Hamba tiada beroleh kebajikan dari kebajikan dari berbuat taat dan tiada beroleh kejahatan dari berbuat maksiat.
Ø  Aswaja                   : Setiap perbuatan baik atau buruk akan ada balasannya.
D
Ø  Jahimiah                : Apabila isi neraka hancur menjadi abu tidak akan  dikembalikan sedia.
Ø  Aswaja                   : Isi neraka setelah hancur akan dikembalikan seperti semula agar merasakan pedihnya siksaan.
E
Ø  Murjiah                 : Allah menjadikan segala mahkluk dan tidak menyuruh berbuat kebajikan dan melarang berbuat maksiat.
Ø  Aswaja                   : Allah menjadikan segala mahkluk dan menyuruh berbuat kebajikan dan melarang berbuat kejahatan.
F
Ø  Qaddariah             : Berbuat ibadah itu sia-sia.
Ø  Aswaja                   : Berbuat ibadah itu tidak sia-sia akan semakin membuat kita dekat dengan Allah dan takut untuk melakukan dosa,

Sumber Referensi :  Kitab Kifayatul Muttadin dan Ilmu Tauhid.
3. Perbedaan
No
Rafiziah
Jabbariyah
Qadariah
Jahimiah
Murjiah
1
Saidina Ali yang
Tidak wajib zakat
Tafakkur itu lebih
Hamba tidak
membaca iman

sebenarnya rasul

utama daripada
mempunyai kudrah
tidaklah sesuatu



ibadah
sama sekali
yang difardzukan
2
Allah Ta'ala
Allah mengampuni
Tidak ada balasan
Untung baik dan
Iktikat dan

terkadang zhahir
dosa syirik
dari perbuatan
jahat tiada dari Allah
pekerjaannya

dengan rupa

kebajikan dan

menyembah bulan.

manusia

kejahatan

matahari & bulan
3
Apabila ruh keluar
Allah tidak
Sekalian perbuatan
Mukmin asli apabila
Allah yang mencip-

dari badan masuk ia
menciptakan
zahir itu perbuatan
masuk neraka tidak
takan segala mahkluk

kelembaga lainnya
matahari & bulan
Allah Ta'ala semata-
keluar lagi selama-
dan tidak melarang



mata dan hamba
lamanya
berbuat kejahatan



tidaklah mempu-

dan tidak menyuruh



nyai usaha iktiar

berbuat kebaikan



sama sekali



Sumber Referensi :  Kitab Kifayatul Muttadin dan Ilmu Tauhid.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) : Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( RPP )


Nama Sekolah                       : SDN 16 Peusangan
Mata Pelajaran                      : Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )
Kelas / Semester                    : IV ( Empat ) / I ( Satu )
Standar Kompentensi           : Memahami Sejarah, Kenampakan Alam, dan Keragaman Suku Bangsa   di Lingkungan Kabupaten / Kota dan Provinsi.
Kompetensi Dasar                : Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat ( Kab / Kota dan Provinsi ).
Indikator                               :      -   Mengedentifikasikan suku bangsa dan budaya setempat.
-          Memberi contoh cara menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
-          Menunjukkan sikap menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
-          Menjelaskan pentingnya menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
Alokasi Waktu                   : 9 x 35 Menit.



A.  Tujuan Pembelajaran
Siswa Mampu                   :
1.    Menyebutkan suku bangsa dan budaya setempat.
2.    Menyebutkan contoh cara menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
3.    Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
4.    Menjelaskan pentingnya menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat.
B.  Materi Pembelajaran       : Keragaman Suku Bangsa dan Budaya.
C.  Metode Pembelajaran
-       Ceramah.
-       Tanya Jawab.
-       Penugasan.
-       Diskusi.
D.  Langkah Pembelajaran
v Pertemuan 1
-       Kegiatan Awal        :
·         Guru memberi salam kemudian mengabsen
·         Guru memberikan motivasi mengenai materi-materi yang akan diajarakan dan manfaatnya serta penyampaian tujuan pembelajaran.
-       Kegiatan Inti           :
·           Guru menjelaskan tentang keragaman suku bangsa dan budaya.
·           Siswa mengamati model / gambar suku bangsa dan budaya setempat.
·           Guru memberikan umpan balik tentang materi yang diajarkan.

-       Kegiatan Penutup    :
·           Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang bertanya mengenai materi yang tidak dimengerti.
·           Guru dan siswa membuat kesimpulan materi.
·           Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam.

v Pertemuan II
-       Kegiatan Awal        :
·           Guru memberi salam kemudian mengabsen.
·           Mengulang kembali sedikit materi sebelumnya.
·           Guru menyampaikan tujuan dan manfaat materi yang akan dibahas.
-       Kegiatan Inti           :
·           Dengan ceramah guru menyampaikan cara menghargai ragaman suku bangsa dan budaya setempat.
·           Mendiskusikan cara menghargai ragaman suku bangsa dan budaya setempat.
·           Guru memberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja siswa didepan kelas.
-       Kegiatan Penutup  :
·         Secara bersama-sama merangkum materi yang telah dibahas.
·         Guru menyuruh siswa untuk mencarikan gambar suku bangsa dan budaya untuk pertemuan selanjutnya.


v Pertemuan III
-       Kegiatan Awal        :
·           Guru menberi salam kemudian mengabsen.
·           Mengulang sedikit materi sebelumnya.
-       Kegiatan Inti         :
·           Secara kelompok siswa memperesentasikan tentang pentingnya menghargai keragaman suku dan budaya setempat.
·           Guru menjelaskan makalah tersebut dan mengaitkan dengan buku.
·           Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang tidak dimengerti.
-       Kegiatan Penutup  :
·           Siswa menyimpulkan hasil diskusi.
·           Guru mengakhiri pertemuan dengan salam.

E.  Sumber Bacaan
-       Gambar Suku Bangsa.
-       Buku Paket.
-       Masyarakat Sekitar.
-       Televisi.

F.   Penilaian
-       Tertulis.
-       Diskusi.

LKS
1.      Bagaimana cara menghargai ragaman suku bangsa dan budaya ?
2.      Carilah gambar suku bangsa dan budaya setempat ?

3.      Pentingkah menghargai keragaman suku bangsa dan budaya ?

Laporan Buku : Manajemen Pendidikan Nasional

LAPORAN BUKU

JUDUL BUKU                      : Manajemen Pendidikan Nasional
PENGARANG                       : Prof.Dr.H.A.R.Tilaar, SP, M.Sc.Ed.
PENERBIT                             : PT.Remaja Rosdakarya
TAHUN TERBIT                   : September 2006
CETAKAN                             : Kedelapan
KOTA TERBIT                      : Bandung
TEBAL BUKU                      : v-viii, ix-xvii dan 215 + cover
HARGA BUKU                     : -
RC.No                                     : RR.PK0033-08-2006
ISBN                                       : 979-514-185-6



GARIS BESAR ISI BUKU :
BAB 1 : MENUJU PERENCANAAN DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
1. Globalisasi, Hurmanisasi, Demokratisasi Serta Implikasinya Dalam Manajemen Pendidikan Nasional
Proses informatisasi yang cepat karena kemajuan teknologi semakin membuat horison kehidupan di planet dunia semakin meluas dan sekaligus dunia ini semakin mengerut. Hal ini berarti berbagai masalah kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidak-tidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian di belahan bumi lain, baik masalah politik, ekonomi maupun sosial. Pendidikan bertugas untuk mengembangkan kesadaran atas tanggung jawab setiap warga negara terhadap kelanjutan hidupnya, bukan saja terhadap lingkungan masyarakatnya dan negara, juga terhadap umat manusia. Peningkatan rasa tanggung jawab global ini memerlukan informasi yang cepat dan tepat serta kecerdasan memadai. Oleh karena itulah, dituntut adanya pendidikan yang berkualitas dan bukan hanya penguasaan pengetahuan dasar 3-R
Usaha-usaha untuk mementingkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan telah melahirkan kembali pendekatan pendidikan yang mementingkan pengembangan kreativitas dalam kepribadian anak. Inilah yang disebut gerakan humanisasi dalam proses pendidikan yang kini sedang banyak dibicarakan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
Gerakan humanisasi ini meminta reformasi yang mendasar dalam pendidikan baik dalam metodologi belajar-mengajar sampai kepada manajemen dan perencanaan pendidikan.
Humanisasi kehidupan manusia berkaitan erat dengan gelombang demokratisasi kehidupan manusia pada akhir dekade 80-an. Inti kehidupan demokrasi ialah perhomatan kepada nilai-nilai kemanusiaan.Tanpa penerapan asas demokrasi tidak mungkin hidup dan berkembangnya kreativitas manusia yang menjadi sumber bagi peningkatan hidup manusia. Demokratisasi proses pendidikan mempunyai dampak yang sangat besar dalam proses perencanaan dan manajemen pendidikan.
Dalam proses perencanaan dan manajemen yang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis dan peningkatan mutu pendidikan, maka proses perencanaan dan manajemen pendidikan akan dititikberatkan kepada manajemen sumber-sumber pendidikan. Inilah proses perencanaan dan manajemen pendidikan yang humanistik, yang menjadikan manusia Indonesia sebagai titik tolaknya.
2. Perencanaan dan Manajemen Pendidikan Nasional ( RENMAN DIKNAS ) Sebagai Sub-Sistem Manajemen Nasional ( SISMENNAS )
SISMENNAS sebagai proses berpusat pada suatu rangkaian pengambilan keputusan yang berkewenangan ( TPKB ), yang terjadi pada tatanan TLP dan TAN. Selanjutnya untuk menyelenggarakan TPKB diperlukan proses arus masuk yang dimulai dari Tata Kehidupan Masyarakat ( TKM ) melewati Tata Politik Nasional ( TPN ).
Didalam TPKB terselenggara fungsi-fungsi yang dapat mewujudkan inti ialah kepentingan rakyat. Fungsi-fungsi itu ialah perencanaan, pelaksanaan, pengendalian pelaksanaan, dan penilaian setelah pelaksanaan selesai. Sebagai subsistem dari kehidupan nasional, SISDIKNNAS mengemban tujuan nasional seperti yang telah dirumuskan dalam SISDIKNAS itu.
Pelaksanaan SISDIKNAS itu sebagai bagian dari SISMENNAS. Ada beberapa hal yang ingin dikemukakan:
1. TKM sebagai arus masuk SISDIKNAS
Pengaruh-pengaruh global ini tentunya perlu disaring agar dapat memberi dampak positif dalam pembinaan SISDIKNAS. Didalam rangka sistem yang besar, ketahanan sistem itu tidak lain dari Ketahanan Nasional Ketahanan Nasional itu dapat diwujudkan apabila sistem itu berpijak pada kebudayaan nasional dan tujuan nasional.
2. Fungsi- fungsi TPKB untuk mewujudkan kepentingan rakyat melalui SISDIKNAS.
Fungsi-fungsi TPKB sudah kita lihat ialah untuk mewujudkan kepentingan rakyat, dalam hal ini kepentingan rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Perencanaan pendidikan kita masih sangat sentralistik. Segala sesuatu bergantung pada pola sentral dan pembiyaan sentral.
Aspek lain dari fungsi TPKB yang belum memperoleh perhatian sepenuhnya dalam SISDIKNAS ialah pengawasan atau supervisi.
3. Administrasi SISDIKNAS.
4. Manajemen SISDIKNAS.
5. Organisasi SISDIKNAS.

3. Manajemen Sistem Pendidikan dan Pelatihan Nasional ( SISDIKLATNAS ) Suatu Kebutuhan Masa Depan.
Dilain Pihak, dunia kerja seakan-akan semakin mencurigai keluaran sistem pendidikan formal karena dianggap kurang memadai memberikan dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan yang mereka perlukan. Memang sistem pendidikan formal bukan semata-mata bukan merpersiapkan seseorang untuk siap memasuki dunia kerja. Namun demikian bukan berarti bahwa sistem pendidikan harus steril terhadap kebutuhan dunia kerja.
1. Konsep Pendidikan Berkelanjutan: Suatu Tinjauan Teoretik.
Artinya pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat, dan didalam pengertian ini berbagai bentuk pelatihan sesudah pendidikan sekolah ( formal ) juga pada hakikatnya adalah bentuk pendidikan. Namun didalam pengertian populer dibedakan antara "pendidikan" dan "pelatihan" dengan ciri-ciri Sebagai berikut:
1.      Pelatihan mengasumsikan adanya dasar pendidikan formal.
2.      Modalitas kelembagaan untuk Pendidikan dan pelatihan tentunya berbeda.
3.      Dimensi pengembangan perilaku yang dominan dari kedua"jenis" pendidikan itu ialah: apabila pendidikan formal berdimensi ideografik yaitu pengembangan individu dan kepribadian seseorang sesuai dengan disposisinya, maka pelatihan lebih berdimensi nomotetik.


2. Pendidikan dan Pelatihan: Satu Sistem
Keduanya saling mengisi dalam rangka pengembangan Manusia Indonesia seutuhnya dan manusia Indonesia sebagai pelaksana pembangunan, Perbedaannya adalah artifisial. Belum adanya suatu sistem kepelatihan nasional yang mantap, menambah kerewanan akan kesenjangan kebutuhan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional.
Antara konsumen tenaga kerja terampil atau dunia kerja dengan SISDIKNAS maupun dengan pusat-pusat pelatihan belum ada suatu pola keterlibatan yang mantap, begitu pula dengan berbagai jenis kursus ketrampilan serta balai-balai latihan.
Kumulasi pengalaman serta penyebaran dan penggandaan fasilitas latihan ini akan dapat semakin cepat apabila tersedia wadah dan sarana dalam bentuk suatu sistem pelatihan nasional yang erat kaitannya dengan SISDIKNAS. Lahirnya SISDIKLATNAS telah merupakan suatu keharusan.




Makalah : Sistem Pedidikan Nasional